Entah apa yang ada di benak para petinggi itu ketika membuat peraturan bahwa mahasiswa di perguruan tinggi yang dipimpinnya harus memiliki skor TOEFL 425. Sebetulnya ini bukan TOEFL sejati. Ini “hanya” tes TOEFL-like, yaitu tes kemampuan berbahasa Inggris dengan materi soal yang mengikuti format standar dan tingkat kesulitan TOEFL. Khusus di perguruan tinggi yang tidak bisa saya sebutkan namanya ini, tingkat kesulitannya pun sudah disesuaikan (baca: diturunkan). Barangkali karena manajer Lab Bahasa cukup pengertian untuk memahami bahwa mahasiswa mereka akan kesulitan mengejar target skor 425 itu dalam satu semester. Tapi tetap saja, tingkat kesulitan yang sudah disesuaikan itu pun rupanya masih terlalu sulit bagi sebagian besar mahasiswa. Berdasarkan pre-test yang dilakukan pada pertemuan pertama, hanya 1-5 orang saja yang skornya di atas 400. Sisanya masih jauh di bawah sehingga bisa dipastikan mereka harus ramai-ramai merangkak untuk menanjak ke 425.
Pada dasarnya TOEFL adalah instrumen untuk mengetahui apakah seseorang memiliki kemampuan bahasa Inggris yang memadai untuk membuatnya bisa bertahan hidup di dunia akademik-ilmiah. Karena itu, soal-soal TOEFL yang terstandarisasi dengan baik dan baku itu sebetulnya hanya ingin menguji apakah seseorang bisa memahami bahasa buku bacaan wajib (buku teks) berbahasa Inggris dan memahami uraian dosen yang disampaikan dalam bahasa Inggris. Artinya, meningkatkan skor TOEFL bukanlah sebuah pekerjaan sulap-menyulap yang bisa dilakukan dengan satu jentikan jari tengah dan jempol tangan sambil melafalkan abrakadabra. Meningkatkan skor TOEFL idealnya adalah meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris. Di situ perlu ada masa persiapan yang dalam bahasa kerennya disebut TOEFL Preparation Course atau kursus persiapan TOEFL. Tapi bagaimana mau meningkat pesat, bagaimana mau sukses mencapai skor batas terendah, jika pemahaman dasarnya saja sudah mengkhawatirkan.
Ketika pembelajaran di kelas dimulai, barulah saya sadar kenapa skor sebagian besar dari mereka begitu rendah. Rupanya bahkan untuk membuat kalimat yang EYD (English Yang Disempurnakan) mendasar dengan kasus Subject-Verb Agreement (Kesesuaian Subjek dan Verb) saja mereka masih banyak yang selalu salah menjawab. Pun ketika materi belajar berlanjut ke pembahasan soal-soal struktur yang masih mendasar lainnya semisal penggunaan Objects of Preposition, verb+ing sebagai adjective, dan sejenisnya, masih terlalu banyak yang merasa kesulitan. Bagi kaum mayoritas ini, skor TOEFL 425 barangkali masih berupa negeri di awan. Untungnya, untuk bagian Reading dan Listening Comprehension mereka cukup terbantu dengan trik-trik yang diajarkan. Dan itulah yang kemudian terjadi. Kami para dosen bukan lagi berorientasi utama mendidik mahasiswa untuk menjadi mahir berbahasa Inggris, tapi semuanya cukup mengajarkan tips dan trik mengerjakan soal-soal TOEFL. Dimulai dari memahami struktur dan tipe soal sampai mencari jurus termudah untuk menjawabnya. Yang jadi target bukanlah membuat siswa menguasai materi dan teori, tapi lebih kepada bagaimana mereka bisa menjawab dengan benar setiap soal yang ada, meskipun tidak mengerti kenapa ini benar dan itu salah.
Ini jelas bukan hal yang ideal bagi pendidikan kita. Tapi terkadang hal ideal memang “dipaksa” mengalah kepada kebutuhan pragmatis: semakin banyak mahasiswa dengan “skor TOEFL yang tinggi”, maka semakin baik pula kualitas pendidikan di perguruan tinggi tersebut.
M. Ramdhan Adhi
Menikmati hidup sebagai penerjemah profesional dalam pasangan bahasa Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Anggota Penuh di Himpunan Penerjemah Indonesia dan Sekretaris di HPI Komda Jabar. Dosen luar biasa untuk mata kuliah English for Business di Program Studi Akuntansi, Universitas Pendidikan Indonesia. Memiliki hasrat terbesar dalam bidang linguistik, penerjemahan, Internet, blogging, riset dan penulisan.
Related posts:







