Dua minggu lalu saya mencoba memasukkan lamaran untuk menjadi penerjemah lepas di sebuah penerbitan yang sedang memiliki proyek penerjemahan buku ajar.
Informasinya saya dapat dari seorang teman. Langsung saya kirimkan surat lamaran dan curriculum vitae. Besoknya penerbit mengirimkan dua halaman untuk diterjemahkan sebagai tes. Besoknya lagi, saya kirimkan hasilnya.
Penerbit kemudian mengatakan bahwa:
Berdasarkan pertimbangan penerbit, hasil translasi Anda belum layak terbit.
Sayangnya penerbit tidak memberikan ulasan mengenai kekurangan hasil terjemahan saya. Heran juga saya. Hasil terjemahan saya kok dianggap belum layak terbit. Apakah sebegitu jeleknya kah. Padahal selama ini klien-klien saya, termasuk beberapa penerbit yang sudah jadi pelanggan tetap, tidak pernah mengeluh sampai mengatakan “hasil translasi Anda belum layak terbit”.
Tapi kemudian saya sadar bahwa ini hanya masalah perbedaan gaya bahasa. Yang namanya penerbit biasanya memiliki apa yang kita kenal sebagai gaya selingkung. Penggunaan kata dan bahasa termasuk di dalamnya. Ketika terjadi perbedaan gaya bahasa penulisan, maka memang tidak akan konek.
Akhirnya saya pun tidak berkecil hati. Boleh-boleh saja penerbit yang satu ini menolak hasil terjemahan saya. Yang penting saya tetap fokus memberikan pelayanan terbaik untuk klien-klien tetap saya selama ini.