Langkah Awal Saya dalam Merintis Karier Menjadi Penerjemah Profesional

Karier penerjemah yang saya jalani sekarang dan dimulai sejak dulu kala ini, bukanlah karier yang serba tiba-tiba mulus bagai jalan tol yang baru di-hotmix. Karier ini saya jalani dengan penuh perjuangan. Saya pikir, semua penerjemah yang lebih senior dari saya juga pasti mengalaminya. Terlepas dari kapan memulainya, apa bidang spesialisasinya, siapa gurunya, dan bagaimana caranya, tapi saya yakin, mereka-mereka yang terlihat sudah enak, menikmati profesi ini dengan tarif tinggi dan pekerjaan tiada henti itu, sebetulnya juga pasti mengalami dukanya membangun karier dalam profesi ini. Saya yakin, garis hidup mereka di bidang ini dihiasi dengan keluh dan peluh, kesah dan darah perjuangan mereka.
Seperti juga yang lain, saya pun memulai proses ini dari bawah.
Berawal pada tahun 2000, ketika saya masih duduk di bangku kuliah semester 3. Waktu itu, dengan semangat ingin tambahan uang jajan, uang beli buku, dan uang-uang lainnya, saya dan teman-teman seangkatan mulai memberanikan diri untuk mengerjakan terjemahan. Klien awalnya datang dari para senior, yang mendapat pekerjaan itu dari lingkungan sekitar: dosen, mahasiswa pascasarjana, dan masyarakat sekitar kampus. Tarif yang diperoleh pada waktu itu sekitar Rp3.000-5.000.
Kemudian, saya dan teman-teman mulai menebar iklan sederhana: menempelkan selebaran di dinding atau mading di dalam dan sekitar kampus, di dekat pusat fotokopian, di rental komputer/warnet, dan di gedung pascasarjana. Tarifnya masih sama, sekitar Rp3.000-5.000 per halaman hasil.
Dari sisi keilmuannya sendiri, saya kebetulan memang kuliah di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris dengan mengambil spesialisasi Translating and Interpreting, sehingga memperoleh beberapa matakuliah khusus penerjemahan lebih banyak dibandingkan yang mengambil spesialisasi English for Specific Purposes. Ada 14 SKS matakuliah penerjemahan dan 10 SKS matakuliah penjurubahasaan. Buku bacaan wajibnya saat itu adalah A Textbook of Translation karya Peter Newmark dan buku pendamping Pedoman Bagi Penerjemah, Panduan Lengkap bagi Anda yang Ingin Menjadi Penerjemah Profesional karya Rochayah Machali. Saat itu masih tidak terpikir bahwa pekerjaan itu akan menjadi profesi idaman di masa depan.
Siklus belajar sambil praktik kerja sendiri dan berkelompok itu terus berlanjut selama kuliah. Berbekal pemasangan iklan di mana-mana itu, alhamdulillah cukup sering pekerjaan yang datang. Semua jenis teks saya terima, saya terjemahkan sebaik mungkin sesuai dengan kemampuan saat itu. Tarif tidak jadi persoalan. Bahkan pernah ada semacam biro terjemahan yang saya lamar dan saya sempat bekerja di sana, meskipun ternyata pekerjaannya adalah mengedit hasil Google Translate dan upahnya cuma Rp1.000 per halaman hasil. Tapi saya jalani saja semua itu. Saya menganggapnya sebagai bagian dari perjuangan hidup.
Lama-lama, semakin banyak artikel atau jurnal/makalah yang saya terjemahkan, dari berbagai bidang keilmuan. Memang tidak semuanya enak. Banyak juga yang minta diterjemahkan sambil dirangkumkan. Tapi semua kesulitan itu tidak terlalu diambil pusing. Karena fokusnya adalah bekerja dan bekerja. Selama ada pekerjaannya, selama ada bayarannya, maka semuanya dikerjakan.
Merasa kemampuan terasah, merasa ada peningkatan dan perkembangan, saya mulai memberanikan diri mengirim lamaran ke berbagai penerbit. Saya pergi ke toko buku, melihat-lihat buku apa saja yang produk terjemahan, lalu mencatat nama dan alamat penerbitnya. Selanjutnya saya kirim lamaran ke semuanya.
Memang sulit, karena di CV saya jelas tertera masih mahasiswa dan belum pernah menerjemahkan satu buku yang untuk diterbitkan. Semua buku yang diterjemahkan sebelumnya biasanya hanya untuk keperluan tugas kuliah, makalah mahasiswa pascasarjana, atau laporan buku mahasiswa pascasarjana. Tapi saya pikir kewajiban saya adalah berusaha.
Untuk menambah wawasan dan pengetahuan, juga menambah jejaring serta peluang pekerjaan, saya juga mengikuti beberapa milis, saat itu masih dominan di Yahoo Groups. Lebih seringnya memang cuma jadi silent reader, tidak terlibat aktif dalam diskusi-diskusi di milis.
Kombinasi berbagai ikhtiar itu akhirnya mengantarkan saya untuk berkenalan dengan sebuah penerbit di Bogor. Untuk pertama kalinya, saya mendapat pekerjaan menerjemahkan buku. Kalau tidak salah, itu terjadi tahun 2003. Buku pertama yang saya terjemahkan dan diterbitkan oleh penerbit di Bogor itu berjudul Senjata Pemusnah Massal dan Kebijakan Kolonialis. Saya ingat upahnya Rp10.000 per halaman hasil. Itu suatu peningkatan yang saya rasakan sudah luar biasa untuk ukuran waktu itu.
Dari sanalah, roda kehidupan saya sebagai penerjemah mulai berjalan. Sesungguhnya semua itu baru langkah awal. Karena perjuangan masih jauh dari selesai. Masih banyak tangga yang harus dilewati, polisi tidur yang menghambat perjalanan, dan banyak sekali suka-duka babak berikutnya yang akan saya ceritakan dalam tulisan lain.
Tapi setidaknya, itulah fase awal cara saya merintis karier sebagai penerjemah. Semoga ada yang bisa dijadikan pelajaran dan penyemangat bagi Anda yang juga ingin jadi penerjemah atau pekerja lepas seperti saya.

Comments

  1. says

    Saat ini karier sebagai seorang penerjemah memang sedang marak diminati oleh masyarakat yang memiliki keahlian di bidang ini. tentunya untuk membangun usaha ini diperlukan kesabaran dan tidak semudah seperti apa yang dibayangkan. sukses selalu untuk karier Anda…

Silakan Komentarnya