Oleh Indra Blanquita Danudiningrat
Saya tetap tak habis-habisnya takjub .. dan ini sudah sering saya tulis di status FB saya …. betapa saya kagum pada rekan-rekan penerjemah yang bergabung di HPI dan Bahtera.
Betapa tidak? Sebenarnya kita semua adalah kompetitor – bersaing memperebutkan kue yang sama. Jumlahnya tidak sedikit, kalau tidak salah, ada ribuan penerjemah di seluruh Indonesia. Tentunya ini menjadikan persaingan lumayan ketat.
Seharusnya masing-masing menjaga ilmu dan keterampilan yg ia miliki dengan sangat ketat – guard it jelaously, kata wong bule. Namun tidak demikian adanya … saya melihat teman-teman begitu ringan tangan saling membantu, berbagi ilmu dan kiat, saling mendukung, merangkul dan mengayomi. Bahkan berbagi pekerjaan. Belum lagi dedikasi mereka pada organisasi dan milis yang menampung begitu banyak penerjemah. Sungguh membuat saya berdecak kagum. Seakan mereka semua adalah pengangguran dan punya waktu banyak untuk mengurus organisasi dan profesi, padahal mereka adalah sasarn empuk para singa mati yang lapar.
Tidak hanya para senior yang adalah penerjemah kawakan seperti Pak Eddie, Bu Sofia, Bunda Maria, Mbak Susan Kumaat, Bu Daisy, dan lain-lain yang bersikap seperti itu, yang muda-mudapun tak kalah “baik hati”nya. Sebut saja, Arfan Achyar, Mas Wiwit, Maria Perdana, Mbak Anna, Mas Ade Indarta, Mas Sutarto, Ivan Lanin, Adrian, Hendrayatna (nama aslinya saya lupa, maaf) dan banyak lagi. Semua punya kesibukan dan kepentingan sendiri-sendiri, tapi masih menyediakan waktu untuk berbagi dengan yang lain.
Saya tidak tahu apakah di asosiasi profesi yang lain keadaannya seperti ini. Yang saya baca di koran-koran sih, politik berperan sangat kuat, ada jegal-menjegal, saling sikut dan main kotor demi kepentingan diri sendiri dan golongannya. Bahkan mungkin kalau saya mendirikan asosiasi Persatuan Preman Lemah Lembut (P2L2) jangan-jangan juga seperti itu. Entah.
Ketua Umum HPI, Pak Eddie Notowidigdo, dengan sikap lembut, ramah, hangat dan mengayomi membuat rasa persahabatan diantara kita menjadi semakin kental. Beliau merangkul semuanya. Dan bukannya cemburu – Pak Eddie rangkul sana, rangkul sini – sang isteri tercinta, Mbak Anneke Notowidigdo, malah memberi dukungan penuh dan ikut berjibaku mengurus kegiatan-kegiatan organisasi, sampai ngangkat-ngangkat barang. Ruarrr biasa!! Yang senior, yang yunior, yang ditengah-tengah … semua benar-benar memegang teguh One for All and All for One …. padahal sejatinya mereka semua adalah pesaing. Sepuluh jempol saya untuk teman-teman semua. Semoga selalu terbina hubungan seperti ini … diteruskan oleh yang muda-muda ketika kelak para senior sudah kaya raya dan tidak butuh uang lagi (amiiiiiiiiin yang kenceng).
This is for all of you and for all of us. Maaf kalau ada nama yang terlewat saya sebut .. begitu banyak yang ikut berperan selama ini, semua deh ada disini …. Kudos!!!
Catatan:
1. tulisan ini aslinya ditulis oleh Bu Indra di Grup Himpunan Penerjemah Indonesia di Facebook, dengan sedikit perubahan saja, yaitu penambahan tautan pada nama-nama orang tersebut di atas, dan pemunculan nama Hendrayatna;
2. singa mati = deadlines
M. Ramdhan Adhi
Menikmati hidup sebagai penerjemah profesional dalam pasangan bahasa Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Anggota Penuh di Himpunan Penerjemah Indonesia dan Sekretaris di HPI Komda Jabar. Dosen luar biasa untuk mata kuliah English for Business di Program Studi Akuntansi, Universitas Pendidikan Indonesia. Memiliki hasrat terbesar dalam bidang linguistik, penerjemahan, Internet, blogging, riset dan penulisan.
Related posts:










Pingback: cahayamitra