Pagi ini saya membaca berita yang cukup asik. Kandungan berita ini sungguh menarik, khususnya karena adanya nalar yang menggelitik.
Ini berita dari DetikCom:
Kamis, 01/07/2010 17:41 WIB
Pemerintah Disarankan Buat Tempat Judi di Pulau Terpencil
Mega Putra Ratya – detikNews
Jakarta – Warga negara Indonesia menduduki peringkat ke-3 sebagai orang yang paling banyak berjudi di Singapura. Mencermati fenomena ini, agar devisa tidak hilang, pemerintah pun disarankan membuat lokalisasi judi.
“Pemerintah sebaiknya membuat lokalisasi judi di pulau terpencil,” kata Rois Syuriah PBNU, Masdar F Mas’udi di Gedung PBNU, Jl Kramat Raya, Jakpus, Kamis (1/7/2010).
Masdar menilai, lokalisasi itu lebih baik daripada uang keluar ke negara lain. “Ada dua masalah, pertama judi haram, kedua ada uang keluar dari negara kita. Daripada judi di luar negeri, itu ada 2 kerugian. Rugi yang pertama berdosa, rugi yang kedua membawa uang kita ke negara lain. Yang paling sedikit dosanya itu berjudi di negeri sendiri,” tambahnya.
Soal lokalisasi judi itu, nanti di tempat judi tersebut ditulis besar-besar bahwa berjudi itu dosa. Selain itu ditulis imbauan dengan ayat Al Quran berjudi haram.
“Kalau di dalam negeri dosanya satu, kalau di luar negeri dua. Kalau di dalam negeri yang mengelola pemerintah. Selain itu kenakan juga pajak yang tinggi, karena dengan pajak yang tinggi bisa bikin jalan-jalan di pulau-pulau kecil di Indonesia. Pokoknya uang bisa ke sektor-sektor di luar, misalnya pembersihan kali atau sungai,” tutupnya. (ndr/fay)
Saran ini, seolah ingin mengatakan bahwa devisa negara hasil judi itu merupakan sesuatu yang sedemikian luar biasa sehingga harus diselamatkan. Caranya adalah dengan melegalkan judi, agar devisa itu tidak lari ke negara lain.
Padahal, kita belum tahu berapa sih nilai devisa hasil judi itu. Kalaupun memang ada nilainya dan nilainya itu besar, apakah kita tidak punya cara lain untuk menambah dan meningkatkan devisa negara selain lewat lokalisasi judi? Apalagi kalau lokasi judi itu dipenuhi dengan himbauan ayat-ayat suci yang disimpan di situ hanya sebagai simbol saja. Saya katakan simbol, karena di satu sisi dibanggakan dan digunakan sebagai tameng bahwa kita sudah memberi himbauan tentang haramnya judi, di sisi lain kita melegalkan dan memfasilitasi judi.
Tanpa lokalisasi judi pun, musibah bencana alam yang menimpa negeri ini sudah tergolong parah. Jika ditambah lokalisasi judi yang dilengkapi dengan hiasan ayat-ayat suci, atas nama penyelamatan devisa, kira-kira bencana alam apa lagi kah yang patut ditimpakan pada negeri ini?
Tanpa dilegalkan pun, judi sudah ada dan memang selalu ada. Tapi sebaiknya kita jangan menambah derita hanya untuk devisa.
Related posts: