Perang Melawan Terorisme Perang Ideologi

February 12th, 2009 by M. Ramdhan Adhi Leave a reply »

Dunia mengenal tiga ideologi: Islam, Kapitalisme, dan Sosialisme. Mereka tidak bisa akur karena masing-masing memiliki filosofi dasar yang sangat berbeda ihwal bagaimana seharusnya hidup ini dijalani. Karenanya, tiga ideologi ini akan terus bersaing, satu sama lain saling menganggap musuh yang harus dikalahkan.

Dulu Islam terlibat perang dengan Romawi dan Persia, dua peradaban besar dunia. Islam lalu terlibat konflik dengan Kristen-Eropa, sampai kemudian Khilafah Utsmaniyah berhasil dihancurkan melalui drama konspirasi negara-negara kufur.

Runtuhnya Negara Islam tidak berarti dunia sepi konflik ideologis. Pada 1946-1989, dunia tertata dalam format Blok Barat yang Kapitalis versus Blok Timur yang Sosialis. Pada 1990 Uni Soviet bubar dan AS segera memproklamasi terbentuknya Tata Dunia Baru serta menahbiskan diri sebagai Globo Cop, Polisi Dunia.

Tak lama setelah proklamasi Tata Dunia Baru, negara-negara Eropa menggalang kekuatan dalam wujud Uni Eropa untuk menandingi AS, sehingga mempertajam persaingan sesama negara kapitalis. Persaingan AS-Eropa kian kentara. Inggris saja, yang seolah-olah teman sejati AS, sebenarnya juga giat menggerogoti dominasi AS, meskipun dengan menggunakan tangan orang lain, misalnya Mahathir Muhammad yang getol menghujat AS. Krisis ekonomi dunia 1997-2001 juga kian melemahkan posisi AS di dalam dan luar negeri. Sementara di dunia Islam bermunculan sentimen-sentimen anti-AS dibarengi maraknya seruan syariat Islam. Belum lagi ancaman laten dari Cina, Korea Utara dan Kuba.

Demi melihat potensi ancaman itu dan melihat kedudukannya yang mulai goyah, AS harus melakukan sesuatu yang bisa mengembalikan posisinya sebagai kekuatan utama dunia. Untuk itu, AS perlu sesuatu yang bisa dimanfaatkan untuk menjalankan manuver politiknya. Dan sesuatu itu ialah Black September. Jika dikaitkan dengan begitu banyaknya kejanggalan dalam peristiwa September Kelabu itu, adalah masuk akal bila ada pengamat yang berpendapat bahwa 11/9 adalah rekayasa AS sendiri, meskipun eksekusinya diserahkan kepada pihak lain. Peristiwa itu menjadi alasan bagi AS untuk melakukan penetrasi dan intervensi ke negara lain dengan dalih demi melindungi kepentingan nasionalnya.

AS lalu mengeksploitasi peristiwa itu untuk menciptakan musuh bersama: bersama kami atau melawan kami? Peristiwa Black September berhasil menciptakan teror, yang langsung menyerang rasa aman masyarakat sebagai bagian dari naluri mempertahankan diri, yang menjadi fitrah manusia. Merasa terancam oleh teror, masyarakat kemudian mendukung WOT. Hal sama berlaku bagi Eropa dan Cina, yang turut memberikan dukungan. Alhasil, Black September berhasil menciptakan opini publik di Barat: terorisme adalah musuh bersama kita.

Pertanyaannya adalah, apakah terorisme itu dan siapakah teroris itu?

Jawabannya muncul lima hari setelah Black September. Bush keseleo lidah (?) ketika mengatakan, “This crusade, this war on terrorism …” .[1] Crusade (Perang Salib) adalah salah satu episode sejarah pertentangan Islam dan Kristen. Kemudian, AS menuding al-Qaeda sebagai dalang Black September (dan al-Qaeda mengaku bertanggungjawab). Pada 10 Oktober 2001, Bush mengungkapkan daftar 22 teroris paling dicari, semuanya Muslim. Bush juga mengeluarkan peraturan pemerintah (ini “executive order” pertama sejak Perang Dunia II) yang memungkinkan pengadilan militer terhadap setiap orang asing yang dicurigai memiliki kaitan dengan tindakan teroris yang sedang atau akan berlangsung di AS. AS lalu menginvasi Afghanistan, dengan dalih menghancurkan sarang dan pelindung teroris. Di sana AS mendapat bantuan militer dari NATO dan negara-negara lain. Awal 2003, AS menginvasi dan menduduki Irak. Dalihnya bahwa Irak punya kaitan dengan al-Qaeda. Karena badan intelijen AS (NSC, CIA, DIA, FBI, Senate Select Committee on Intelligence, dan 9/11 Commission) tidak menemukan bukti substansial keterkaitan Irak dan al-Qaeda, maka AS membual tentang rencana Irak mengembangkan senjata pemusnah massal, yang lagi-lagi tidak terbukti.

Nuansa konspirasi dalam WOT kian kental ketika AS menggalang dukungan luas internasional. Kurang dari 24 jam setelah serangan atas WTC, NATO mengutip Artikel 5 dari North Atlantic Treaty dan menyatakan bahwa serangan itu berarti serangan terhadap seluruh negara anggota NATO (19 negara). Pada 22 November 2002, negara-negara anggota EAPC merumuskan Partnership Action Plan against Terrorism yang secara eksplisit menyatakan, “Negara-negara EAPC berkomitmen melindungi dan mendukung kebebasan dan hak asasi manusia, serta rule of law, dalam memerangi terorisme.”[2]

Pemerintahan Bush juga mengeluarkan USA Patriot Act, yang kemudian disebarkan, difotokopi, dan diterjemahkan ke dalam beragam bahasa untuk diundangkan di negara-negara lain. Di Indonesia, Patriot Act itu menjadi UU Anti-Terorisme. UU itu memberikan keleluasaan kepada pihak berwenang untuk mengambil tindakan terhadap segala sesuatu yang mengarah pada terorisme. Tapi di manapun UU itu berada, yang ditangkapi pastilah orang-orang Islam, khususnya para aktivis Muslim. Entah itu di Timur Tengah, Asia Tengah, Asia Tenggara, Australia, Eropa, bahkan Amerika.

Mengenai terorisme sendiri, Dephan AS mendefinisikannya sebagai “penggunaan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut, yang ditujukan untuk memaksa atau mengintimidasi pemerintah atau masyarakat demi tujuan-tujuan politik, agama, atau ideologis.”[3] Kalau begitu, mengapa AS tidak memerangi dan menyerang sarang ETA [4] di Spanyol, FARC [5] di Kolombia, IRA [6] di Irlandia, atau Israel? Atau serang saja Inggris, yang jelas-jelas toleran dan memelihara IRA.

Pada 6 Oktober 2005, saat memberikan sambutan tentang terorisme di National Endowment for Democracy, Ronald Reagen Building and International Trade Center, Bush mengatakan, “Kelompok militan yakin bahwa dengan menguasai satu negara akan menyatukan masyarakat Muslim, sehingga mereka bisa menggulingkan pemerintahan-pemerintahan moderat dan mendirikan imperium Islam radikal yang membentang dari Spanyol hingga Indonesia.” Jelas sudah siapa yang jadi musuh AS: Islam.

AS tidak berani menyatakan permusuhan secara terang-terangan kepada Islam dan umat Islam, karena (1) banyaknya komunitas Muslim yang tinggal di Barat, dan (2) ada sekitar 1,2 milyar Muslim yang tersebar di seluruh dunia. AS membuat kesan bahwa yang menjadi musuh adalah yang berlabel Islam teroris, fundamentalis, militan, dan radikal, sebagai lawan dari Islam moderat, yang oleh Bush dianggap sebagai Islam “yang sebenarnya”.

Mengapa Islam dan umat Islam yang menjadi target utama WOT? Karena Islam mampu menghadirkan ancaman nyata bagi AS dan ideologinya. Ancaman kebangkitan Islam jauh lebih berbahaya ketimbang ancaman Sosialisme. Zeyno Baran, direktur International Security and Energi Programs di Nixon Center, mengatakan, “Hingga beberapa tahun yang lalu, sebagian besar kelompok Islam menganggap upaya penegakan Khilafah yang baru adalah tujuan yang utopis. Sekarang, semakin banyak orang yang menganggap tegaknya kembali Khilafah sebagai tujuan yang serius” Kembalinya ideologi Islam akan meruntuhkan ideologi Kapitalisme. Ideologi Islam akan menyatukan dunia Islam di bawah naungan Khilafah Islam, negara yang berideologi Islam dan bersifat global. Karena itu, Kapitalisme akan ditinggalkan dan dilupakan. Ini berarti ancaman terhadap eksistensi AS dan ideologinya.

Dengan demikian, ‘perang’ yang terjadi sekarang ini adalah ‘perang’ tentang bagaimana mengubah pemikiran dan sistem nilai di dunia Islam, agar mereka meninggalkan Islam dan mengambil Sekularisme, sehingga tidak akan ada lagi negara Khilafah. Di saat yang sama, aktivis gerakan Islam juga berjuang menyadarkan umat untuk menerapkan Islam dan Sekularisme, serta memperjuangkan kembalinya Khilafah. Inilah inti dari perang ideologis, persis seperti ketika AS dan Blok Barat-nya memerangi Komunisme yang diusung Uni Soviet dan Blok Timur-nya.

Sampai kapan perang ini akan berlangsung? Pada 20 September 2001, Presiden AS George W. Bush berbicara di depan Kongres dan rakyat AS, “Perang melawan teror ini kita mulai dengan al-Qaida, tapi kita tidak akan berhenti sampai di situ. Perang ini tidak akan berakhir sampai setiap kelompok teroris global berhasil kita temukan, hentikan, dan kalahkan.” [7] Condoleezza Rice mengatakan, “Kemenangan itu bukan ketika teroris dikalahkan dengan kekuatan militer, tapi ketika ideologi (yang mengajarkan) kematian dan kebencian itu berhasil dikalahkan”[8]

Oke, ini memang perang pemikiran, tapi kenapa AS tetap melakukan aksi militer? Kita tahu, tujuan kebijakan luar negeri AS adalah mewujudkan keamanan nasional dan mendukung kemakmuran domestik. Dalam konteks kebijakan luar negeri, keamanan nasional berarti mencegah adanya serangan terhadap wilayah AS maupun terhadap kepentingan AS di negara-negara lain, dengan mendeteksi sumber permusuhan, kemampuan musuh, dan kesiapan musuh untuk menggunakan kemampuannya tersebut. Sementara itu, kemakmuran domestik diukur dengan berjalannya perekonomian, yaitu berjalannya proses produksi dan terbukanya pasar. Proses produksi hanya berjalan bila ada ketersediaan bahan mentah, energi, dan tenaga kerja. Dengan demikian, strategi kebijakan luar negeri AS dirancang guna menghilangkan sumber permusuhan, kemampuan musuh, dan kesiapan musuh untuk menggunakan kemampuannya tersebut, sekaligus menjamin ketersediaan bahan mentah, energi, tenaga kerja, dan terbukanya pasar. Itulah mengapa dalam perang pemikiran ini AS keukeuh menggunakan kekuatan militer dan menempatkan pangkalan militer di tempat-tempat strategis. Strategi penguasaan wilayah ini berguna untuk meraih kepentingan ekonomi sekaligus membatasi ruang gerak musuh.

Tapi strategi sekali tepuk menangkap dua lalat ini sebetulnya saling berkontradiksi. Kunci memenangi perang pemikiran adalah meraih simpati dan memenangi hati dan pikiran masyarakat. Sedangkan aksi militer pasti menimbulkan antipati dan sentimen negatif, yang ujung-ujungnya merusak kredibilitas. Tapi itulah harga yang harus dibayar oleh negara yang ingin memaksakan ideologinya diberlakukan di dunia, padahal ideologinya itu jelas-jelas cacat dan tidak sesuai dengan fitrah manusia.

Catatan Kaki:
[1] http://www.whitehouse.gov/news/releases/2001/09/20010916-2.html
[2] http://www.nato.int/docu/basictxt/b021122e.htm
[3] Dua bulan pascaserangan 11 September, Noam Chomsky menuding bahwa AS adalah negara teroris (http://www.monthlyreview.org/1101chomsky.htm). Sejak dulu Chomsky memang kerap berpendapat bahwa definisi “terorisme” yang diterima luas itu juga berlaku bagi tindakan-tindakan yang dilakukan AS (http://www.chomsky.info/articles/199112–02.htm).
[4] Kelompok nasionalis Basque yang secara bergerilya berusaha memisahkan dan memerdekakan diri dari Spanyol.
[5] Fuerzas Armadas Revolucionarias Colombianas (Revolutionary Armed Forces of Colombia), kekuatan politik besar yang awalnya terinspirasi oleh Revolusi Kuba, berusaha mentransformasi Kolombia yang kapitalis menjadi sosialis.
[6] Irish Republican Army, organisasi nasionalis Irlandia yang berupaya memerdekakan dan menyatukan seluruh kepulauan Irlandia dengan cara mengangkat senjata.
[7] http://www.whitehouse.gov/news/releases/2001/09/20010920-8.html
[8] “Rice: U.S. using Cold War techniques in war on terror Waging a war of ideas with radical Islam”, Thursday, August 19, 2004 Posted: 4:13 PM EDT (2013 GMT). http://www.cnn.com/2004/ALLPOLITICS/08/19/rice-muslims/

[tulisan pesanan untuk Majalah Media Politik dan Dakwah Al-Wa'ie, edisi Maret 2006]

M. Ramdhan Adhi

Menikmati hidup sebagai penerjemah profesional dalam pasangan bahasa Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Anggota Penuh di Himpunan Penerjemah Indonesia dan Sekretaris di HPI Komda Jabar. Dosen luar biasa untuk mata kuliah English for Business di Program Studi Akuntansi, Universitas Pendidikan Indonesia. Memiliki hasrat terbesar dalam bidang linguistik, penerjemahan, Internet, blogging, riset dan penulisan.

More Posts - Website

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInGoogle PlusDiggStumbleUponYouTube

No related posts.

Advertisement

RealTranslatorJobs.com
Real Writing Jobs
SurveysPaid.com
Get Cash For Surveys
Wordpress Plugin Creates Backlinks Automatically!

Buffer
GetSocial