Kristenisasi Di Dunia Islam: Hasil Konspirasi Misionaris dan Imperialis

Belum lagi kontroversi rencana pembangunan Gedung Menara Doa Jakarta tuntas, kaum Muslim di negeri ini kembali dikejutkan dengan laporan Republika edisi 23 Juni 2004 tentang kehebohan yang melanda SLTP 1 Pakan Kamis, Sumatra Barat. Kehebohan itu dipicu oleh adanya Al-Quran beryesus. Pada pelapis dalam cover tebal terdapat kertas bertuliskan huruf-huruf latin berbunyi ‘Yesus Kristus’. Juga ada tulisan “Bunda Mariah, domba gembala, gereja”, dan bait-bait lagu gereja. Sontak saja hal itu membuat warga sekolah kaget bukan kepalang.
Kabar dari Ranah Minang itu kembali membuka mata kita bahwa kristenisasi di Indonesia kian agresif dan berani. Sayangnya, banyak kalangan yang menganggap angin lalu masalah ini. Tulisan ini berikhtiar untuk membangunkan kesadaran umat mengenai bahaya kristenisasi ini dengan cara mengungkap kristenisasi di dunia Islam dari sisi sejarah, motif, hingga modusnya. Selain itu, tulisan ini juga akan menengok kiprah misionaris di masa Khilafah Utsmaniyah dan di Indonesia.

Menurut Y.B. Sariyanto Siswosoebroto dalam Sejarah Kristenisasi di Indonesia, kristenisasi (Arab: tanshir) ialah mengkristenkan orang atau membuat seseorang memeluk agama Kristen. Misionaris adalah sebutan untuk siapa saja yang mengemban tanggungjawab menyebarkan Kristen. Secara istilah kristenisasi berarti mengkristenkan orang secara besar-besaran dengan segala daya upaya agar kehidupan di masyarakat mencerminkan ajaran agama Kristen. Kristenisasi juga mengandung pengertian politik, yaitu suatu usaha untuk lahirnya undang-undang ataupun peraturan atau tindakan dan sikap penguasa yang memberi kesempatan lebih banyak bagi tersiarnya agama Kristen atau menguntungkan bagi agama itu.

Motif Kristenisasi
Kristenisasi memiliki setidaknya dua motif. Pertama, motif agama. Dalam Kitab Perjanjian Baru, Markus: 28: 18-19, disebutkan: “Kepadaku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”. Ayat ini menjadi acuan keharusan menyebarkan Kristen ke seluruh dunia. Yang menjadi sasaran dalam motif ini ialah setiap penduduk bumi yang non-Kristen. Artinya, motif ini menghendaki agar seluruh warga bumi dikristenkan. Kedua, motif ideologis. Dalam hal ini kristenisasi menjadikan Islam dan umatnya sebagai sasaran utama. Menurut Kardinal Lavie Garry, “Tanpa diragukan lagi, agama yang paling kuat dan tidak bisa ditaklukkan adalah agama Islam. Oleh karena itu para misionaris berharap agar seluruh kaum muslim menjadi Kristen. Meskipun para misionaris juga menyebarkan ajaran mereka di kalangan Budha dan Hindu, namun tujuan asli mereka adalah kaum muslim.” Kekalahan dalam Perang Salib membuat Kristen menaruh dendam kesumat terhadap Islam. Tapi Perang Salib juga menjadi inspirasi bagi lahirnya ‘Perang Salib baru’. Lutfi Liqunian, seorang penulis Kristen, menulis, “Eropa dalam Perang Salib menggunakan pedang, sekarang menggunakan penyebaran paham sebagai cara untuk mencapai maksud-maksudnya. Dengan Perang Salib baru ini, Eropa ingin mencapai tujuannya tanpa pertumpahan darah. Dalam usahanya ini, Eropa memanfatkan gereja, sekolah-sekolah, dan rumah sakit serta menyebarkan misionaris mereka.” Raymond Lull adalah orang Kristen pertama yang mengumandangkan kristenisasi menyusul kekalahan pada Perang Salib. Menurutnya, cara untuk menaklukkan dunia Islam bukanlah dengan kekuatan senjata atau kekerasan, melainkan dengan kata, logika, dan kasih. Menurut Eugene Stock, mantan Sekretaris Redaksi Church Missionary Society, tidak ada figur yang lebih heroik dalam sejarah Kristen dibandingkan Raymond Lull. Ialah misionaris pertama dan mungkin terbesar yang menghadapi Islam.

Norman Daniel dalam Islam and the West: The Making of an Image menuturkan, penentangan politik dunia Kristen terhadap dunia Islam berubah menjadi satu pemikiran yang menguasai Barat. Ide ini terus tertanam dalam pikiran Barat meskipun ideologi persatuan Eropa telah hancur dan agama Kristen telah terpecah menjadi Katolik dan Protestan. Seperti dimaklumi bersama, Paus Iskandar VI memberi dukungan kepada pemerintah Spanyol dan Portugal dengan syarat kedua imperialis ini memberi jalan kepada misionaris untuk masuk ke negara jajahan dan mendukung segala upaya dan aktivitas misionaris Kristen di sana. Kerjasama misionaris dan imperialis ini menguntungkan kedua belah pihak. Para misionaris berperan sebagai pembuka jalan bagi imperialis dengan menghancurkan moralitas penduduk pribumi. Setelah berdiri, pemerintahan imperialis melindungi aktivitas misionaris agar penyebaran kebudayaan Barat terus berjalan. Tapi mengapa misionaris mau bekerjasama dengan imperialis? Dalam China and the West, Pak mengutip ucapan Napoleon, “Delegasi misionaris agama bisa memberikan keuntungan buatku di Asia, Afrika, dan Amerika karena aku akan memaksa mereka untuk memberikan informasi tentang semua negara yang telah mereka kunjungi. Kemuliaan pakaian mereka tidak saja melindungi mereka, tapi juga memberi mereka kesempatan untuk menjadi mata-mataku di bidang politik dan perdagangan tanpa sepengetahuan rakyat.”

Akhirnya, kristenisasi menjadi salah satu strategi negara-negara Barat untuk menguasai dunia Islam. Negara-negara Barat dan perusahaan-perusahaan multinasionalnya menanamkan modal yang sangat besar pada yayasan-yayasan misionaris. David Waren, penanggungjawab Ensiklopedia Dunia Kristen, menyatakan bahwa bahwa 70 milyar dolar telah dihabiskan untuk membiayai aktivitas misionaris pada tahun 1970 saja. Menurutnya, kurang dari dua dekade jumlah ini telah mencapai hampir dua kali lipatnya dan akan terus meningkat. Muhammad Imarah mencatat pada 1991 Organisasi Misionaris Dunia memiliki 120.880 lembaga khusus untuk kegiatan kristenisasi di kalangan Islam; 99.200 lembaga pendidikan untuk mencetak kader penginjil; 4.208.250 tenaga profesional; 82 juta alat komputer; 24.000 majalah; 2.340 stasiun pemancar radio dan televisi; 10.677 sekolah dengan jumlah 9 juta siswa; 10.600 rumah sakit; 680 panti jompo; 10.050 apotek; anggaran kegiatan kristenisasi sebesar 163 milyar dolar. Tahun sekarang pastinya lebih dari itu. Setiap tahunnya, para misionaris biasanya berkumpul pada 22 Juni yang merupakan hari kristenisasi internasional untuk mengevaluasi kinerja mereka selama setahun ke belakang dan menentukan cara-cara baru yang lebih mumpuni.

Setakat ini kristenisasi ditempuh dengan dua strategi. Pertama, membina dan memasukkan orang Islam ke dalam agama Kristen. Strategi ini terhitung kurang ampuh, mengingat ajaran Kristen sendiri memiliki kelemahan internal sehingga orang yang berakal sehat tidak akan sudi secara sadar memeluknya. Oleh karena itu, strategi kedua dianggap lebih realistis dan efektif, yaitu mengeluarkan orang Islam dari agamanya atau menjauhkannya dari ajaran Islam. Dalam Konferensi Misionaris di kota Quds (1935), Samuel Zweimer, seorang Yahudi yang menjabat direktur organisasi misi Kristen, menyatakan, “Misi utama kita bukan menghancurkan kaum Muslimin sebagai seorang Kristen, namun mengeluarkan seorang Muslim dari Islam agar jadi orang yang tidak berakhlak sebagaimana seorang Muslim. Tujuan kalian adalah mempersiapkan generasi baru yang jauh dari Islam, generasi yang sesuai dengan kehendak kaum penjajah, generasi malas dan hanya mengejar kepuasan hawa nafsu.” Strategi inilah yang berhasil meruntuhkan Khilafah Utsmaniyah.

Kristenisasi pada masa Khilafah Utsmaniyah
Gerakan misionaris menimbulkan dampak yang sangat merusak di dunia Islam. Apa yang tidak dapat dicapai oleh kaum kafir dalam ribuan tahun menggunakan kekuatan senjata, dapat diraih oleh kaum misionaris hanya dalam waktu satu abad.

Awalnya, gerakan ini bertujuan menyebarkan pemikiran Kristen dan mengganti agama kaum muslim. Namun, usaha mereka gagal. Dalam metode barunya, alih-alih mengajarkan ajaran Kristen, mereka malah mempropagandakan kebudayaan Barat dan nasionalisme. Metode ini banyak dilakukan oleh misionaris asal Amerika. Seperti diakui oleh penulis Barat, George Antonius, benih-benih pemikiran pertama Barat seperti penolakan agama, liberalisme, dan sekularisme terus-menerus ditanamkan oleh misionaris Kristen di dunia Islam. Tujuannya ialah memperlemah keislaman kaum muslim dan mempersiapkan kondisi bagi terlaksananya imperialisme. Para misionaris menyebarkan dasar-dasar pemikiran Barat dan mempromosikan peradaban Barat di dunia Islam dengan mendirikan sekolah-sekolah, pusat keilmuan, dan universitas.

Universitas St. Joseph di Suriah dan Universitas Amerika di Beirut adalah dua pusat keilmuan yang didirikan para misionaris. J.B. Gibb dalam Suriah, Libanon, dan Jordania menulis, “Kedua universitas ini membuka jalan bagi masuknya pemikiran Barat ke Suriah, Libanon, dan Jordania dan unsur pemikiran baru terpenting yang mereka sebarkan adalah nasionalisme.” Universitas St. Joseph menekankan pada pengkristenan kaum muslim dan penyebaran kebudayaan Barat di Suriah, sementara Universitas Amerika di Beirut berusaha menyampaikan pahamnya dengan metode westernisasi dan liberalisasi. Universitas ini menerapkan rencananya dengan jalan menyebarluaskan materialisme, nasionalisme, dan liberalisme. Akibatnya, terjadilah gelombang penjajahan budaya dan penindasan budaya pribumi dan juga masuknya ideologi-ideologi dan pendidikan Barat. Sedangkan bidang industrialisasi dan kemajuan ekonomi dan ilmu-teknologi sama sekali tidak dikembangkan di negara-negara Islam. Joseph Szyliowicz dalam Pendidikan dan Modernisasi di Timur Tengah mengakui bahwa program-program kedua universitas ini lebih banyak bermanfaat bagi Perancis dan Amerika daripada memenuhi kebutuhan masyarakat Timur Tengah.
Shabir Ahmed dan Abid Karim dalam Akar Nasionalisme di Dunia Islam mencatat bahwa Inggris dan Perancis mendalangi disintegrasi wilayah Khilafah Utsmaniyah. Mereka berhasil memaksa Khilafah untuk memecah wilayah Syam menjadi dua provinsi, yakni Libanon dan Suriah. Libanon dikuasai orang Kristen dan sejak itulah Libanon menjadi penghubung antara negara asing imperialis dan dunia Islam. Rongrongan para misionaris ini pada akhirnya mampu meruntuhkan Khilafah Utsamaniyah yang pernah berjaya sekitar 700 tahunan lamanya.

Dengan runtuhnya Khilafah dan naiknya Kamal Attaturk, para misionaris semakin leluasa menjalankan aktivitasnya. Kebijakan politik Attaturk sejalan dengan tujuan para misionaris. Attaturk menutup semua sekolah Islam di Turki dengan alasan penyeragaman kurikulum pendidikan. Sebaliknya, pusat-pusat pendidikan misionaris Barat diizinkan untuk terus beroperasi dan bahkan pada 1930, sekolah-sekolah AS di Turki dibebaskan dari pajak. Minggu ditetapkan sebagai hari libur menggantikan Jumat. Huruf Arab diganti huruf latin. Penanggalan Hijriah diganti penanggalan Masehi. Kebijakan itu diambil Attaturk demi menyingkirkan nilai-nilai Islam dari tengah masyarakat Turki. Sebaliknya, Attaturk menyebarluaskan pengaruh kebudayaan Barat di negara itu.

Kristenisasi di Indonesia
Riwayat kristenisasi di Indonesia dimulai dengan datangnya para kolonialis. Selama lebih dari tiga abad Indonesia dijajah oleh Spanyol, Portugis, Belanda, dan Inggris. Status sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia sekaligus memiliki kekayaan alam yang melimpah menjadikan Indonesia target penting bagi misionaris dan kolonialis.
VOC atau Perusahaan Belanda di Hindia Timur yang dibentuk pada 1602 merupakan wakil imperialisme Belanda di Asia Tenggara. Latourette dalam A History of Christianity mengakui, “Prinsip dan kaidah Kristen dalam kebijakan-kebijakan imperialisme Belanda memainkan peranan yang sangat banyak.” Aqib Suminto dalam Politik Islam Hindia Belanda menuturkan bagaimana pada 1661 VOC melarang umat Islam melaksanakan ibadah haji. Kebijakan ini merupakan realisasi anjuran Bogart, seorang Katolik ekstrim di parlemen Belanda. Bogart menilai para haji sangat berbahaya secara politis. Karena itu, melarang perjalanan ibadah haji jauh lebih baik ketimbang menembak mati para haji itu. C. Guillot dalam Kiai Sadrach: Riwayat Kristenisasi di Jawa menuturkan bahwa pada awalnya pusat penyebaran Kristen adalah Maluku. Banyak orang Maluku yang menjadi tentara yang kemudian dikirim ke kawasan-kawasan utama militer Belanda di Jawa, seperti Batavia, Semarang, dan Surabaya. Mereka itulah yang pertama kali membentuk jemaah Kristen pribumi.

Dalam menjalankan kristenisasi, VOC meniru cara-cara yang dilakukan Spanyol dan Portugis, yaitu cara-cara memaksa. Penjajah Belanda memaksa rakyat pribumi untuk menerima ajaran Kristen. Sebaliknya, jika seorang Belanda masuk Islam, keuangannya akan dihentikan dan orang itu akan ditangkap serta dikeluarkan dari wilayah tersebut. Perlindungan para imperialis Barat membuat para misionaris memiliki posisi penting di masyarakat. Ketika Indonesia merdeka, orang-orang Kristen menduduki jabatan-jabatan penting dalam pemerintahan dan memiliki pengaruh besar dalam percaturan politik. Perubahan dalam mukadimah UUD RI dari “Ketuhanan yang Mahaesa dengan menjalankan kewajiban syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa” merupakan contoh kuatnya pengaruh Kristen di Indonesia. Selanjutnya, setiap rancangan undang-undang atau peraturan pemerintah yang dianggap menguntungkan kaum Muslim selalu ditolak keras oleh kalangan Kristen, misalnya dalam perdebatan seputar RUU Peradilan Agama 1989. Sebaliknya, yang dianggap dapat menjauhkan kaum Muslim dari ajaran Islam selalu didukung penuh, seperti dalam perdebatan RUU Perkawinan 1973.
Berbagai konflik sejak 1997 yang melibatkan pemeluk Islam dan Kristen di Kalbar, Timtim, NTT, Ambon, Irian, Poso, dan Maluku, sebenarnya tidak lain adalah buah dari aktivitas kristenisasi yang tak kunjung padam dan dipadamkan.

Seribu Jalan Menuju Kristen
Banyak cara ditempuh para misionaris demi memurtadkan umat Islam. Media Dakwah (No. 192 – Juni 1990) memuat bocoran dokumen Keputusan Dewan Gereja Indonesia di Jakarta tertanggal 31 September 1979 perihal program jangka panjang kristenisasi di Indonesia yang intinya bertujuan meningkatkan populasi umat Kristen agar sama dengan umat Islam. Ini dilakukan dengan mempropagandakan program keluarga berencana kepada kalangan Muslim dan mengharamkannya bagi kalangan Kristen. Berikut ini ialah sebagian modus kristenisasi yang ada di lapangan.

Pendidikan
Bagi para misionaris, pendidikan merupakan jalan terbaik untuk mempengaruhi masyarakat. John Moot, misionaris Amerika, mengatakan, “Kami harus mengajarkan ajaran agama kepada anak-anak. Sebelum dewasa, anak-anak itu harus kami tarik ke Kristen dan sebelum konsep Islam terbentuk dalam jiwa anak-anak itu, jiwa mereka harus kami tundukkan.” Karena itu, mereka mendirikan lembaga pendidikan dari tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi, tentu saja dengan kualitas pendidikan dan fasilitas yang canggih. Karenanya, bisa dimaklumi mengapa kalangan Kristen seperti kebakaran jenggot ketika RUU Sisdiknas hendak di-UU-kan.

Kesehatan dan Pengobatan
Di dunia ini akan selalu ada orang yang sakit dan orang sakit akan selalu memerlukan dokter. Di mana ada kebutuhan terhadap dokter, di sana ada kesempatan untuk menyebarkan ajaran agama. Di rumah sakit Dr Cipto Mangunkusumo Jakarta, pasien Muslim biasanya mendapat brosur tentang penghiburan dan penyembuhan Yesus Kristus. Di rumah sakit Advent Bandung, pasien Muslim diajak berdoa bersama oleh rohaniwan rumah sakit dengan tata cara peribadatan Kristen. Tahun 2003 lalu diselenggarakan Bandung Festival 2003 di GOR Saparua, Bandung. Dalam poster dan selebaran tertera bahwa di sana akan ada pengobatan gratis oleh Peter Youngren. Dari susunan acara yang mencantumkan doa bersama, dari sosok Peter Youngren yang mejeng di poster, dan dari penyelenggara acara itu, mudah ditebak bahwa itu adalah ajang pemurtadan di tengah kota.

Perkawinan/Pemerkosaan
Khairiyah Anniswah alias Wawah, siswi MAN Padang, diculik dan dijebak oleh aktivis Kristen. Ia diberi minuman perangsang lalu diperkosa. Setelah tak berdaya, ia dibaptis. Linda, siswi SPK Aisyah Padang, diculik, disekap, diteror secara kejiwaan supaya murtad ke Kristen dan menyembah Yesus Kristus. Di Bekasi, seorang pemuda Kristen pura-pura masuk Islam lalu menikahi seorang gadis Muslimah salehah. Setelah menikah, mereka melakukan hubungan suami-istri. Adegan ranjang yang telah direncanakan itu difoto oleh kawan pemuda Kristen itu. Setelah dicetak, foto itu ditunjukkan kepada sang Muslimah dibarengi pertanyaan: “Tetap Islam atau pindah ke Kristen?” Bila tidak pindah agama, foto-foto telanjang Muslimah itu akan disebarluaskan. Karena tidak kuat mental, akhirnya sang muslimah terpaksa dibaptis demi menghindari aib.

Narkoba
Di Desa Langensari, Lembang, Bandung, Yayasan Sekolah Tinggi Theologi (STT) Doulos menyebarkan Kristen dengan cara merosak moral calon korbannya terlebih dahulu. Di sana, para pemuda berusia 15 tahunan dicekoki minuman keras dan obat-obatan terlarang sampai kecanduan berat. Setelah kecanduan, para pemuda itu dimasukkan ke panti rehabilitasi Doulos untuk disembuhkan sambil dicekoki injil (Republika, 10 dan 12 April 1999).

Filantropi
Para misionaris sering menampilkan diri sebagai orang yang penuh belas kasih terhadap sesama manusia. Mereka mendatangi orang-orang miskin sambil menawarkan makanan (beras, mi instan, gula, dll.) secara gratis. Mereka juga memberi obat-obatan, pakaian bekas, alat-alat pertanian (bibit, pupuk, obat pembunuh serangga/hama, dll.). Setelah orang desa merasakan manfaatnya, barulah para misionaris menyatakan maksud yang sebenarnya, bahwa mereka adalah pelayan dari Yesus Kristus, dan bantuan yang orang desa nikmati itu adalah dari Yesus. Lalu sang misionaris bertanya, mana yang lebih baik, Islam atau Kristen? Singkatnya, masyarakat desa dibaptis.

Kristenisasi berkedok Islam
Para misionaris menggunakan idiom-idiom keislaman dalam tata cara peribadahan serta menerbitkan buku-buku dan brosur berwajah Islam, tapi isinya memutarbalikkan ayat-ayat al-Quran dan hadis, untuk mendangkalkan akidah umat. Ayat-ayat Ilahi dipermainkan untuk melecehkan Islam sembari menjunjung tinggi Kristen. Maksudnya jelas, agar kaum muslim meragukan ajaran Islam lalu pindah ke Kristen. Cara ini dilakukan misalnya dengan meniru kebiasaan umat Islam dalam hal bangunan dan tata cara ritual. Bangunan gereja GPIB Padang memakai lambang-lambang Minang untuk merayu orang Minang agar tertarik kepada Kristen. Di beberapa desa di Yogyakarta, misionaris meniru adat kebiasaan umat Islam, seperti tahlilan, pakai kopiah yang biasa dipakai umat Islam, dan tak lupa mengucapkan salam ‘Assalaamu’alaykum’, dll. Ada juga sholat 7 waktu dengan pakai peci, sajadah, tiwalul Injil dan qasidah versi Kristen yang dilakukan oleh Kristen sekte Ortodoks Syria. Mereka juga sering mengadakan natalan bersama dengan memakai atribut Islam, seperti yang pernah dilakukan jemaat Doulos di Kampung Sawah.

Penerbitan buku
Buku yang diterbitkan ada yang berwajah Islam dan ada yang langsung menghujat Islam. Contoh yang berwajah Islam adalah Ayat-ayat Al-Quran karya Drs. A. Poernarna Winangun. Sementara Islamic Invasion: Confronting the World’s Fastest Growing Religion oleh Robert Morey adalah contoh yang menghujat. Dan masih banyak lagi buku-buku sejenis.

Ada dua target yang ingin dicapai dengan menerbitkan buku-buku berwajah Islam. Pertama, target ke dalam, yaitu memantapkan ajaran Kristen, seolah-olah ajaran Kristenlah yang benar. Kedua, target ke luar, yakni mengelabui umat Islam yang masih dangkal pemahaman agamanya, agar mau membaca lalu meyakini doktrin Kristen.

Buku-buku itu diterbitkan oleh Yayasan Jalan Al-Rachmat, Yayasan Christian Center Nehemia Jakarta, Yayasan Pusat Penginjilan Alkitabiah (YPPA), Dakwah Ukhuwah, dan Iman Taat kepada Shiraathal Mustaqiim. Sementara buku yang menghujat biasanya terjemahan tanpa identitas penerbit asli.

Mistik
Para misionaris kini kerap menggunakan jurus-jurus alam gaib untuk memurtadkan orang Islam. Sabili (Edisi 12 – Desember 2003) dan GATRA (Edisi 51, 31 Oktober 2003), menurunkan laporan mengenai maraknya aksi pemurtadan lewat jin, sihir, dan hipnotis di Sumatra Barat. Banyak muslimah di sana yang dibuat kesurupan lantas diajak masuk Kristen. Ada juga yang ketika kesurupan selalu mengucapkan kata-kata khas Kristen seperti ‘Yesus’, ‘Bunda Maria’, dan marah bila dibacakan ayat-ayat al-Quran.

Kesimpulan
Demikianlah sepak terjang kristenisasi di dunia Islam. Dengan militansi yang tinggi, organisasi yang rapi, dana yang tak terbatas, para misionaris leluasa mengobok-obok dunia Islam. Satu hal yang patut kita renungi, di kalangan Kristen sendiri sebenarnya terjadi perpecahan yang amat parah. Mereka terbagi dalam banyak kelompok yang saling bertikai bahkan mengkafirkan satu sama lain. Tapi dalam melakukan aktivitas kristenisasi, kelompok-kelompok itu menghilangkan perbedaan di antara mereka dan bersatu-padu dalam satu barisan. Bagaimana dengan kita?

[tulisan pesanan untuk Majalah Media Politik dan Dakwah Al-Wa'ie, edisi Agustus 2004]

Comments

  1. dicky says

    Klo aku damai disini aku disini, klo aku damai disana aku disana, nggak perlu curiga2 karena engkaupun melakukan hal yg sama. Tetapi tujuan akhir kita sama kan.

  2. Manawir J Koppeng says

    @Hamzah Murtadin. Hey ….sang laknatullah, aku adalah orang yang awan dan seorang yg beragama islam yang telah membaca hujatan kamu kepada Allah, Nabi Muhammad SAW dan Islam, apakah dengan hujatan kamu diatas akan berbondong-bondong umat islam meninggalkan agama Islam menjadi masuk agama Kristen atau Atheis?……., tdk ! Malah keimanan kami akan semakin bertambah. Camkan itu!

  3. al mahdi says

    sebenarnya agama kristen maupun islam adalah agama misi jadi masalah kristenisasi maupun islamisasi sudah ada sejak agama agama ini ada kristen sekitar tahun 0 masehi dan islam tahun 600 masehi, yang menjadi masalah dua duanya mengklaim sebagai agama yang benar, sebenarnya salah satu dari keduanya adalah agama palsu, hanya satu yang benar , tetapi yang mana agama yang benar itu, dua duanya harus tetap ada seperti hitam dan putih siang dan malam, yang benar akan selalu dipelihara oleh Tuhan dan yang palsu dipelihara oleh iblis atas seizin yang maha esa, hal yang paling mudah mengetahui yang asli atau palsu ialah yang asli pasti lebih dulu ada dari yang palsu, karena yang palsu ada untuk memalsukan yang sudah ada, tidak ada barang palsu lebih bagus dari yang asli, atau membandingkan alkitab dengan alquran, jesus dengan muhammad, jika kita membaca alkitab bacalah juga alquran, begitu juga jika kita membaca alquran bacalah juga alkitab, jangan takut untuk membaca yang bukan kita imani karena yang maha benar akan memberi kita kebenaran yang benar.

  4. Hamzah Murtadin says

    Dahulu ketika saya masih seorang budak Arab (baca: ‘muslim’), saya mengira Allah SWT adalah Tuhan Pencipta Dunia beserta Isinya, dan Muhammad adalah seorang manusia yang amat sempurna yang diciptakan Allah SWT guna menjalankan misi ketuhanan yang penghabisan, yaitu mendirikan agama terakhir, Islam.
    Saya pun mengira, Islam adalah sebuah ajaran kebenaran yang mendidik para pengikutnya agar takut pada dosa, takut melakukan kejahatan. Saya mengira, Islam adalah agama universal untuk seluruh umat manusia di bumi. Saya mengira, Islam adalah satu-satunya agama yang dapat memperkenalkan Tuhan yang benar pada pengikutnya.
    Tetapi, apa yang sesungguhnya? Semua perkiraan dan keyakinan saya akan Islam itu adalah keliru. Semua yang saya yakini tentang Islam hanyalah angan-angan belaka, tidak sesuai dengan fakta sesungguhnya.
    Saya kini sadar, bahwa ‘muslim’ telah ditipu oleh bangsa Arab. Apa yang mereka sangka Tuhan, sebetulnya bukan Tuhan, tapi Jimat, yaitu seonggok batu hitam (benda mati) yang didaulat sebagai Allah SWT. Itulah kenapa, sejak zaman nabi hingga detik ini, tiada seorang muslim pun yang mengandalkan Allah sebagai kekuatan adikodrati untuk menjadi pelindung mereka. Muslim lebih percaya pada kekuatan manusia, yaitu kekuatan senjata (dahulu pedang, kini senapan dan bom). Bahkan nabi sendiri pun adalah seorang yang bengis dan cuma bisa mengandalkan kelicikan dan keganasan manusia belaka, tiada kekuatan ilahi pernah dipakainya. Untuk menjadi sukses di Arab dan dunia sekitarnya, cara-cara kekerasan dan peperanganlah yang digunakan.
    Saya pun akhirnya tahu, kalau Muhammad tidaklah sempurna, baik secara akhlak maupun fisiknya. Muhammad gemar kawin, suka menyetubuhi anak-anak, berzinah dengan siapa saja yang disukainya, merebut istri orang lain bahkan istri anaknya sendiri, membunuh siapa saja yang berani menentang kehendaknya, mencari nafkah dengan jalan merampok dan menjarah karavan dagang Quraish, menyerang kota-kota Yahudi dan menghabisi penduduknya hanya karena alasan “mereka tidak mau beriman”.
    Semua yang saya katakan ini bukanlah dusta saya, tetapi berdasarkan apa yang saya baca dari Sirat Rasul yang ditulis oleh sejarawan Islam tertua Ibnu Ishaq (704 – 768 M), dan juga kumpulan hadist-hadist sahih seperti Bukhari & Imam Muslim. Saya pada mulanya juga sempat terkejut dan tidak percaya, mungkin itu hanya fitnah kaum kafir, yang membuat karangan-karangan palsu untuk menjelek-jelekkan Islam. Ketika saya berusaha untuk mendapatkan detil-detil sejarah Islam dari buku-buku pelajaran cucu saya di sekolah maupun buku-buku Islam yang untuk umum, saya dapati kesimpulan bahwa tulisan-tulisan itu ditulis hanya berdasarkan prasangka-prasangka dan tidak didukung oleh bukti-bukti catatan sejarah yang valid. Anda bisa cek ini sendiri, bila Anda punya anak yang bersekolah setingkat SD, SMP atau SMA, buka-bukalah buku pelajaran Islam, khususnya mengenai bab sejarah nabi Muhammad. Anda akan temukan bahwa si penulis banyak mengumbar tuduhan-tuduhan, seperti menyebut orang Yahudi sebagai para perampok, pembunuh, pelanggar perjanjian dan tukang bikin onar, tanpa ada rujukan catatan sejarahnya. Sementara kata-kata pujian secara berlebihan disematkan pada sang nabi, ini pun tanpa disertai bukti-bukti fakta yang memadai. Muhammad dikatakan berperang demi membela diri, karena dirinya diserang kaum kafir (tanpa bukti). Perang Badar dikatakan sebagai Perang Suci, bukan perampokan, padahal itu adalah perampokan besar yang dilakukan sang nabi terhadap pedagang Quraish. Buku-buku itu mengkambinghitamkan Yahudi dan kaum Pagan sebagai biang peperangan di Arab, tanpa ada satu pun bukti yang mendukung pernyataan-pernyataan tersebut. Apakah sejarawan Islam Ibnu Ishaq itu salah, sedangkan penulis buku pelajaran Islam ini yang benar? Tentu saja saya lebih percaya pada tulisan Ibnu Ishaq ketimbang buku-buku sekolah itu, karena buku-buku itu hanya bisa menjudge dan mengklaim, menuduh dan memuji-muji secara sepihak tanpa disertai dengan bukti fakta sejarah yang valid.
    Umat Islam telah didoktrin sejak masih anak-anak, sejak di pengajian-pengajian, sejak di TPQ dan sejak di pendidikan umum yang terendah seperti TK atau SD, bahwa Islam itu agama terbaik, agama paling sempurna, nabi Muhammad adalah makhluk paling sempurna, yang sempurna akhlak dan jasmaninya, bla-bla-bla….. tanpa mereka tahu bahwa mereka sedang dibohongi. Fakta sejarah menyatakan sebaliknya, sedangkan apa yang mereka terima dari guru-guru Islam mereka adalah kebohongan, karangan-karangan untuk menutupi Islam yang sebenarnya.
    Agama Islam diciptakan bukan untuk benar-benar berfungsi sebagai agama, melainkan sebagai sekte pemujaan kepada Muhammad, sang pendiri. Setiap saat muslim dicekoki oleh doktrin-doktrin bahwa nabi Muhammad adalah makhluk mulia, manusia paling bijaksana dan paling luhur di antara anak-anak keturunan Adam, maka dari itu semua pengikutnya wajib untuk bersholawat untuk dia, mendoakan keselamatan bagi Muhammad dan keluarganya agar terhindar dari siksa api neraka, memuji-muji nama sang nabi bak orang Kristen memuji-muji Yesus, Tuhan mereka. Tiada doa tanpa disertai dengan kata-kata sanjungan dan pujian buat sang nabi.
    Islam, tidak mengajarkan kebaikan. Apa yang disebut kebaikan dalam Islam hanyalah kebaikan yang semu dan hanya untuk kalangan sendiri saja. Islam mengajarkan kekerasan rumah tangga, perlakuan yang buruk kepada wanita, perkosaan terhadap para pelayan/budak, serta zinah berkedok nikah (poligami). Islam menanamkan benih-benih penyakit dalam hati muslim, dengan membagi dunia ini menjadi 2 bagian, yaitu dunia Pemuja Allah/Muhammad dan dunia Kafir. Islam bercita-cita mengubah dunia ini menjadi 1 dunia saja, yaitu dunia Pemuja Allah/Muhammad, dan semua orang yang menolak memuja Allah dan Rasulnya harus disingkirkan atau dijadikan budak (dhimmi).
    Secara terang-terangan, Alquran menyatakan kebencian dan permusuhannya terhadap Kristen dan Yahudi. Secara jelas pula dalam Alquran tertulis bahwa bila saatnya tiba, bila Islam sudah cukup kuat pengaruh dan kekuatan bersenjatanya, seluruh muslim diwajibkan memerangi orang-orang non-muslim di manapun mereka berada, termasuk terhadap para tetangga sendiri yang tidak memiliki permusuhan apa pun.
    Di mata Islam, semua orang yang menolak agama Islam dianggap sebagai musuh Allah & Rasulnya, dan mereka adalah bahan bakar api neraka. Karena mereka bahan bakar api neraka, Islam bukannya mengajarkan umatnya agar mengasihani dan menyayangi mereka, tapi justru malah memerintahkan untuk menumpas dan menyiksa mereka sebagai siksa dunia sebelum mereka mengalami siksa akherat. Siapa pun yang dianggap sebagai calon neraka, di dunia ini darahnya halal ditumpahkan.
    Saya pikir, Islam memang sangat menjijikkan, sehingga akhirnya menghantarkan saya untuk benar-benar bulat mengambil keputusan KELUAR dari agama palsu ini. Jika saya terus berkutat pada agama menjijikkan yang penuh kepalsuan dan tipu daya ini, saya bukan MANUSIA, tapi zombi yang mengabdi untuk Arab. Saya bukan orang Arab, saya orang Indonesia, saya tidak sudi jadi zombi-nya Arab. Bagi yang ingin membaca secara online Buku Sejarah Muhammad (Sirat Rasul) dari Sejarawan Tertua, Ibnu Ishaq, bisa ke: http://www.faithfreedom.org/Articles/sira/index.htm
    Buku itu sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Bagi yang kesulitan dengan bahasa Inggris, bisa mendapatkan cuplikan-cuplikan (kutipan-kutipan) Sirat Rasul dan juga hadist sahih dengan membaca artikel-artikel di bawah ini.artikel berikut ini akan menjelaskan pada kalian bahwa semua yang saya katakan ini adalah benar.
    Sejarah Muhammad dan Analisis Kepribadiannya Bagaimana Caranya Muhammad Mati? Dunia Teroris Masa Kini Terinspirasi dari Aksi Teror Nabinya. Mengenal Keluarga Suci Ala Muhammad Muhammad dan Sex Muhammad Pelanggar Sumpah Muhammad Jelek (Keadaan Fisiknya Tidak Sempurna) Allah SWT adalah Karangan Muhammad Allah SWT adalah Berhala Terbesar Sembahan Suku Pagan QuraishAllah SWT adalah Setan Islam bukan Agama Islam Agama Sakit Islam Agama Kebencian

    • dany says

      Bang..dunia sesungguhnya persaingan, Islam & kristen itu saingan, jd tinggal kita mau di pihak mana. Saya sebagai Muslim akan berusaha menjadikan Islam sebagai agama 99,99 % Indonesia & menghapus non Muslim dari bumi Indonesia.

    • Limpingkwie says

      Kasihan orang yang mengaku bernama Hamzah ini. Semakin dibaca tulisannya semakin ketahuan kebodohannya. Ciri khas orang orang pembenci Islam ngomong ga ada buktinya. Mungkin karena kebanyakan baca al kitab (bibel) yang penuh dengan cerita porno dan tidak cocok dengan fakta sejarah. Yang kamu lakukan seperti menegakkan benang basah…!!!

      • Adhy_amar says

         namanya juga Hamzah Murtadin, itu mah dah Begok kuadrat lagi, baca sejarah cuman sampul depan dan belakangnya aja, jadi mana dia paham. kasihan dia semoga mendapat hidayah

  5. says

    Kristenisasi itu memang dari jaman penjajahan dulu.. dan karena hasilnya kurang memuaskan maka di adakan pembantaian muslim ambon dan poso dengan licik dan dengan liciknya misionaris MEMUTAR BALIKAN FAKTA

  6. says

    Kristenisasi itu memang dari jaman penjajahan dulu.. dan karena hasilnya kurang memuaskan maka di adakan pembantaian muslim ambon dan poso dan dengan liciknya misionaris MEMUTAR BALIKAN FAKTA

  7. wongkembangbahu says

    Saya yaqin cerita di atas benar adanya.Bagaimana mungkin di awal 60 an sekolah-sekolah kristen begitu megah ditengah-tengah mayoritas masyarakat MUSLIM INDONESIA ,dari mana dananya kalau bukan dari konspirasi dgn para penjajah.

  8. andi gae says

    :grin: Yg lain ga koment de ga jelas….dasar penulisannya…..
    tapi yg paling lucu….soal mistik……misionaris pake mistik..?????
    duh kalo fitnah yg sesuai dong…….. :grin:
    kalo jin-jin ama sihir kaya gitu ga ada di kristen broo……semuanya itu kita sebut setan ato iblis dan ga ada yg baik apalagi bertobat……….
    cari didunia ini dukun yg kristen broo………..pun ada kuasa yg mereka pakai kuasa gelap… :grin:

    Tuhan Yesus memberkati…..

  9. fernando says

    didalam kristen tidak ada namanya membenci agama lain, tp jika agama. yg andasebut kafir,dan apabila orang tersebut benar-benar meneror atau membunuh demi surga,ya udah pasti harus di musuhi. dan dimana di dunia ini negara-negara kristen yang saling membunuh demi, “yang sering disebut surga” kan tidak ada. tapi orang jahat itu harus cepat di basmi, dari pada membunuh semua orang demi surganya yng tidak kita tau dimana.

  10. says

    Konspirasi ini memang benar adanya. Saya punya tetangga kristen dan pernah secara tidak sengaja mendapatkan selebaran yang berasal dari Gereja. Isinya adalah berupa strategi untuk membuat posisinya lebih kuat dan bagaimana melemahkan posisi umat Islam. Misalnya yang saya baca : jika saudara kristennya misalnya menyewa toko yang dimilikinya maka harus diberi dengan harga rendah sementara jika Muslim maka akan disewakan dengan nilai tinggi.

    • SAM says

      @investasi emas,

      iya benar sekali pak,,,,orang non muslim selalu menjual barangnya kepada muslim dengan harga yang mahal…….

      makanya sekarang saya selektif kalau mau beli barang atau berhubungan bisnis..Mending kita berhubungan bisnis dengan sesama muslim karena biasanya ikatan persaudaraannya lebih kuat…….

  11. says

    Pada dasarnya dalam islam itu kita saling menghormati orang lain.
    Tapi dalam hati orang siapa tahu…
    Fisikli mungkin seperti itu,tetapi tujuan utama dalam hatinya siapa yang tahu? Hanya Allah SWT dan dia sendiri yang tahu.
    Bukti2 sudah banyak tersebar,dan kalau mengingat kembali kemasa lalu, umat muslimlah yang menguasai ilmu pengetahuan.

    Untuk umat muslim, ini adalah ujian buat kita semua agar kita bersatu dan menyadari sepenuhnya apa yang terjadi di lingkungan sekitar kita.
    Ingatlah, al-qur’an adalah kitab penyempurna kitab2 sebelumnya.
    Dan islamlah agama yang dirahmati Allah SWT.
    Amien….amien…ya robbal alamin….

  12. putri says

    KOnyol! itu cerita kapan? sejarah jaman dulu dan belum tentu kebenarannya.. cerita yang dibuat dari sudut pandang pembenci Kristen.. apakah anda sudah melihat dari sudut pandang keristen sendiri?

    menurut saya, sekali lagi semuanya itu tergantung dengan orgnya masing2.. dan KRISTEN bukanlah organisasi kejahatan ataupun yang merusak moral! Kristen itu sebuah agama..dan kita harus menghormatinya..

    Saya kristen dan saya tak pernah memikirkan hal2 diatas sama sekali, seperti memandang islam buruk atau sebaginya.. kareans aya menghirmati agama apapun… jadi sekali lagi menurut sayam semua tergantung dengan dirinya masing2 dan tidak semu org sama.. dan jaman juga sudah berubah.. bukan lagi jaman seperti yang dulu…karenas ekaranga dalah jamannya moderenisasi( tidak ada unsur2 membawa hal2 perang salib) dan Menghormati agama2 lain yang sudah diakui negaranya.. karena negara indonesia bukan cuma punay satu agama dn negara indonesia adalah negara demokrasi..

    * maaf kalo ada kata2 saya menyinggung

    • Womb says

      yah mungkin benar kalau melihat dari apa yang anda dalami. tetapi kristenisasi itu memang benar ada. Mungkin anda tidak pernah melihat sendiri bahkan mengalami karena anda adalah orang kristen, mana mungkin menjadi sasaran kristenisasi. tapi kami yang muslim sudah sering sekali melihat, menyaksikan bahkan berdebat dengan mereka. Bayangkan saja mereka mendatangi rumah2 kita dengan maksud mengenalkan yesus dan Injil. Apa maksudnya ini? bukankah kami sudah punya keyakinan, Islam, sudah punya kitab suci, Qur’an, Sudah punya Tuhan, Allah. tetapi kenapa mereka mengajak2 untuk mengenal yesus 9tuhan kristen), injil (kitab suci kristen) yang nanti ujung2nya membanding2kan antara islam dan kristen (dengan membawa dalil dari Qur’an yang sengaja diubah2), Nah kalau yang diajak orang islamnya yang awam, tentu sangat mudah terjerat oleh pendangkalan akidah mereka. Tetapi kalau yang ilmu agama Islamnya kuat, mereka hanya bisa kabur.
      Itu fakta tak terbantahkan

Trackbacks

Silakan Komentarnya