Piala Dunia 2010 sudah mendekati akhir. Ada empat negara yang siap bertarung memperebutkan dua jatah final. Ada tangis dan kekecewaan ketika tim jagoan tersisih, misalnya Brasil, Inggris, Argentina. Ada decak kekaguman melihat tim muda Jerman begitu digdaya. Sayangnya, kekhusyuan kita (para penikmat sepakbola, yang bukan penikmat pasti tidak) mengikuti Piala Dunia agak terusik dengan munculnya kasus-kasus hukum yang serba geje.
Kenapa terusik, karena pemberitaan media massa cetak/elektronik/internet jadi serba terbagi-bagi konsentrasi seperti tidak ada fokus. Kenapa geje, karena perkara-perkara hukum yang mencuat itu sering kali hanya meledak sesaat lalu tidak jelas juntrungannya.
Inilah bedanya Piala Dunia 2010 dan perkara-perkara hukum di negeri ini.
Di Piala Dunia, selalu ada agenda yang jelas tentang kapan mulainya, kapan berakhirnya. Tim yang turun bertanding jelas komposisi pemainnya dan ofisial serta pendukungnya. Siapa yang menang dan kalah akan segera ketahuan karena jam tandingnya sudah ditentukan secara baku tinggal diikuti prosedurnya. Pertandingan juga selalu dipimpin oleh wasit yang jelas, dibantu asisten wasit yang tidak kalah jelasnya. Jikapun para wasit yang notabene penegak hukum itu melakukan kesalahan dalam mengadili pertandingan, maka akan ada sanksi yang jelas dari FIFA, seperti yang menimpa wasit-wasit yang jelas-jelas melakukan kekeliruan.
Saat kita membaca koran, atau media berita online, di jajaran berita terkini pasti kita temukan kabar terbaru dari Piala Dunia, bersaing dengan kasus video porno (tersangka) Ariel, Susno, gas meledak, hingga perkara Yusril Ihza Mahendra dan rekening gendut Gayus dan para perwira yang belakangan ramai diberitakan karena isi rekeningnya mungkin sanggup membawa kita ke Piala Dunia. Sebelum ini kita pun heboh kasus Century, Bibit-Chandra vs Anggodo.
Media tentu saja memang bertugas menyampaikan berita agar masyarakat tahu apa yang terjadi. Kita pun tentu menyempatkan diri membaca berita demi mengikuti perkembangan situasi.
Tapi, yah, itulah bedanya Piala Dunia dan kasus hukum di negeri ini. Sejak 11 Juni hingga 11 Juli, kita bisa dengan jelas mengikuti perkembangan kasus Piala Dunia.
Namun jangan berharap kita bisa mendapat kejelasan yang sama ketika mengikuti kasus-kasus hukum tadi.
Jelas dan kejelasan, itu yang tidak ada di kasus-kasus hukum yang hadir hanya turut meramaikan pemberitaan media. Tidak jelas wasitnya siapa, kapan mulai dan berakhirnya, yang mana pendukungnya, pencetak golnya siapa, dan yang paling parah: kapan dan bagaimana berakhirnya.
Mungkin, mereka yang hobi bersengketa di media itu harus belajar sepakbola dulu sebelum jadi politisi. Yang saya anjurkan sepakbola tingkat dunia lho ya, bukan sepakbola ala PSSI yang sama gak jelasnya dengan kasus-kasus tadi.
Posted with WordPress for BlackBerry.
Related posts: