Saya lahir dan besar di Bandung. Bahkan hingga sekarang tidak dan belum pernah bertempat tinggal selain di Bandung. Maka sangat wajar jika saya mengaku diri sebagai bobotoh Persib.
Sebagai seorang bobotoh, tentu saya sedih mendengar kabar klab lokal kesayangan saya itu kalah. Tapi yang membuat saya lebih sedih adalah komentar sebagian kalangan tentang kekalahan itu.
Saya akui bahwa peran penonton teramat besar dalam mempengaruhi kinerja para pemain di lapangan. Khususnya ketika bertindak sebagai tim tuan rumah. Tapi mari kita lihat persoalannya secara jujur dan jernih: ini adalah pertandingan sepakbola. Yang bertarung di lapangan adalah sebelas melawan sebelas. Jadi, menurut saya, pertandingan yang tanpa penonton (menurut kebijakan Polwiltabes Bandung, hingga radius 300 meter dari stadion harus steril bobotoh) adalah pertandingan yang jujur. Artinya, ketika Persib kalah dari Persiba tadi sore, itu bukan karena pertandingannya tidak disaksikan para bobotoh, tapi karena memang Persib tidak bisa mencetak lebih banyak gol dibanding lawannya.
Apakah kelesuan mencetak gol itu dipengaruhi oleh ketiadaan bobotoh di stadion? Sangat mungkin memang benar demikian adanya. Tapi terlalu cari-cari alasan jika kemudian hal itu dianggap sebagai faktor utama kekalahan Persib.
Persib adalah tim besar dengan sejarah yang kuat. Sedangkan kemenangan dan kekalahan adalah bagian dari permainan. Sebagai tim besar, Persib harus mengakui bahwa kekalahan adalah kekalahan, bahwa kekalahan adalah karena kurang baiknya permainan, juga bahwa di kesempatan lain Persib harus bermain lebih baik lagi. Minimal, lebih baik dan lebih banyak mencetak gol dibanding lawan. Karena itulah kunci kemenangan sebuah tim.
Yang penting, kalah atau menang, Persib tetap di hatiku