Kemarin pagi sebelum mulai mengajar, saya bersarapan di kantin salah satu fakultas. Sambil menikmati hangatnya kopi dan nikmatnya bala-bala (gorengan khas Bandung semacam bakwan), ditemani matahari pagi, saya juga curi-curi dengar obrolan sejumlah mahasiswa. Yang jadi obrolan mereka adalah papan penunjuk jalan di depan kantin itu. Tepatnya di depan SMA yang ada di depan kantin fakultas.
Kalau itu hanya papan penunjuk jalan biasa, mungkin tidak ada hal menarik untuk dibincangkan. Yang membuat papan itu menjadi lebih menarik dari papan penunjuk jalan biasa adalah adanya tulisan dengan huruf besar berbunyi: PRIA PUNYA SELERA. Selebihnya adalah tanda arah panah yang mengatakan ke kanan ada apa, ke kiri ada apa, lurus ada apa.
Berbekal informasi terdahulu yang tersimpan di memori otak masing-masing, saya pikir Anda tentu tahu PRIA PUNYA SELERA itu punya siapa dan tentang apa. Agaknya itulah yang menyebabkan para mahasiswa di kantin itu ribut tentang papan penunjuk jalan.
Seketika memori saya berkelebat ke sebuah forum yang pernah ramai membahas boleh-tidaknya, dan elegan-tidaknya, perusahaan yang notabene menjadi induk dari perusahaan produsen rokok, masuk kampus. Kalau perusahaan rokok masuk kampus dalam bentuk beasiswa saja, mungkin urusan tidak akan jadi ramai. Tapi yang terjadi adalah citra dan slogan atau tagline perusahaan itu ikut-ikutan meramaikan pemandangan kampus. Itulah poin utama yang jadi bahan perdebatan anak-anak di kantin dan kawan-kawan di forum.
Sepanjang (atau sependek) 12 tahun usia kehidupan saya di kampus bervisi pelopor dan unggul (leading and outstanding) ini, saya ingat setiap tahun Sampoerna setia memberikan sejumlah dana dalam bentuk beasiswa. Tapi saya juga ingat bahwa saya belum pernah melihat logo, simbol, dan atau slogan produk-produk Sampoerna di kampus. Sekarang, produk PRIA PUNYA SELERA juga tidak terlihat, tapi PRIA PUNYA SELERA-nya itu nyata terlihat jelas di sejumlah tempat.
Menyimak diskusi di forum dan di kantin, ada kesamaan tunggal: pro dan kontra tak berkesudahan seputar PRIA PUNYA SELERA masuk kampus yang (konon) ilmiah, edukatif, dan religius. Yang pro menyajikan alasan-alasan yang (terlihat) meyakinkan. Yang kontra mempresentasikan argumen-argumen yang (terlihat) kuat.
Kalau mau, saya juga bisa saja masuk ke ruang perdebatan itu lalu mengambil satu posisi sambil menyampaikan sejumlah pemikiran. Tapi saya tidak tertarik masuk ke sana. Karena bagi saya, perkara ini terlalu mudah dibaca: bahwa ini adalah masalah UUD (ujung-ujungnya duit).
Maksud saya begini. Kampus sedang berusaha tumbuh dan berkembang. Ini proses panjang berkelanjutan yang tentu membutuhkan pembiayaan. Kampus tidak bisa mengusahakan dana itu sendirian. Maka menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga lain tentu jadi pilihan.
Maka, masuklah sejumlah perusahaan ke kampus dengan membawa proposal kerjasama di bidang ini dan itu. Proposalnya cantik-cantik. Dihiasi kata-kata indah tentang adanya “kesamaan visi dan misi di antara kita”, “keselarasan program-program sosial kita”, “kesesuaian cita-cita kita di bidang pemanfaatan teknologi”, dan sebagainya.
Jika ada perusahaan produsen kondom yang visi dan misi perusahaannya, juga program-program CSR (Corporate Social Responsibility)-nya, dipandang (terserah mata dan otak siapa yang jadi standar pandangan) sejalan dengan visi dan misi serta program kampus, kemudian perusahaan produsen kondom itu juga mampu menyediakan dana terbesar dibanding perusahaan-perusahaan lain yang saling bersaing masuk kampus, maka bisa jadi (yang berarti bisa juga tidak) perusahaan kondom itu akan masuk kampus. Saya yakin gambar kondomnya tidak akan ada. Tapi slogannya mungkin saja mampir.
Asumsi dasar ini bisa kita terapkan juga terhadap perusahaan lain. Entah itu produsen sabun colek, minyak goreng, sepatu, perlengkapan bayi, pembalut wanita, atau apapun. Perusahaan apapun yang masuk kampus dan mengiklankan dirinya sehalus apapun, orang-orang akan tetap membicarakannya.
Apapun perusahaannya, faktor yang menentukan adalah berapa nilai nominal yang terlibat dalam kerjasama yang dilakukan. Apapun bentuk kerjasamanya.
Orang-orang, seperti di forum dan kantin itu, boleh-boleh saja berdebat tentang nyambung-tidaknya visi dan misi kampus yang katanya ilmiah-edukatif-religius dengan produsen PRIA PUNYA SELERA itu. Para penentu kebijakan sah-sah saja menyajikan sebanyak mungkin argumen (excuses) tentang bahwa kerjasama antara dua perusahaan yang sama-sama legal itu adalah sah dan tidak menyalahi apapun. Siapapun boleh berdebat tentang manfaat dan mudaratnya.
Bagi saya, sederhana saja, itu semua adalah ulah si uang yang sekarang sudah semakin pandai berbicara.
Sambil membayar cemilan dan minuman di kantin, saya sempat cengar-cengir membayangkan perdebatan macam apa yang akan terjadi sekiranya kedudukan PRIA PUNYA SELERA di kampus ilmiah-edukatif-religius tercinta itu digantikan oleh produsen kondom atau pembalut wanita. He he he…
M. Ramdhan Adhi
Menikmati hidup sebagai penerjemah profesional dalam pasangan bahasa Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Anggota Penuh di Himpunan Penerjemah Indonesia dan Sekretaris di HPI Komda Jabar. Dosen luar biasa untuk mata kuliah English for Business di Program Studi Akuntansi, Universitas Pendidikan Indonesia. Memiliki hasrat terbesar dalam bidang linguistik, penerjemahan, Internet, blogging, riset dan penulisan.
Related posts:







