Hidup selalu saja penuh kejutan-kejutan. Serapi apapun kita menyusun rencana, dan segigih apapun kita bekerja keras menjalani setiap jengkal disain hidup itu, selalu saja ada hal-hal yang terjadi di luar ekspektasi dan prediksi. Selalu saja ada perkara yang membuat kita berteriak “Damned! All my plans ended up in failure! Shit!”. Atau bagi orang yang rada religius, mungkin cukup berbisik lirih “Astaghfirullah, cobaan apa lagi ini.” Atau kombinasi gaya, “Damned, astaghfirullah, gagal euy!”, he he he.
Apapun cara mengungkapkannya, yang pasti seorang lelaki tak boleh berdiam diri dan menyerah pada keadaan. Di usia yang sejengkal lagi menginjak kepala tiga, tentu saja saya sudah terbiasa makan asam garam kehidupan, lengkap beserta pahit manisnya. Dengan menggunakan jendela positif dalam memandang dunia, Insya Allah setiap hal pahit tidaklah benar-benar pahit. Karena dalam setiap masalah, selalu ada kesempatan baru. Dalam setiap kegagalan, selalu ada kesempatan untuk memulai babak baru yang akan menghasilkan akhir baru yang lebih baik.
Apa yang saya alami mungkin sudah terbiasa juga dialami oleh banyak orang. Yaitu putus sekolah. Bedanya, saya putus sekolah pascasarjana. Uang sepuluh juta (juga waktu dan energi) yang sudah ditanamkan untuk semester satu dan dua tampaknya harus direlakan, karena alokasi anggaran untuk semester tiga dan empat harus mendadak lenyap karena kejadian-kejadian di luar ekspektasi dan prediksi manusiawi saya pribadi. Sambil mengurus kemungkinan cuti satu semester untuk sekadar menarik nafas, tentu saja saya harus mencari alternatif lain untuk melanjutkan sekolah. Karena “kegagalan” itu berarti pertanda bahwa memang mungkin bukan di situlah rizki saya. Artinya, rizki saya ada di tempat lain.
Saya tidak punya ayah yang bisa dimintai uang sekolah. Andai ayah masih hidup pun, rasanya tidak lucu kalau saya masih meminta uang sekolah, hehehe. Saya juga tidak punya harta benda yang jika dijual hasilnya akan cukup buat SPP. Memang saya punya banyak saudara dan kerabat, tapi tentu saja kita sama-sama tahu bahwa hubungan keluarga dan kerabat seperti itu adalah hubungan darah dan takdir semata.
Dari situlah akhirnya saya akrab dengan kata kunci “beasiswa” dan “assistantship” di Google. Berhubung saya bukan seorang PNS, juga bukan dosen Kopertis, maka dua jurus itulah yang saya gunakan. Itupun setelah ngobrol-ngobrol dengan teman-teman dan rekan-rekan, atau para senior, yang sudah pernah atau sedang menikmati asiknya sekolah di luar negeri dengan fasilitas beasiswa. Dulu saya menganggap peluang sekolah ke luar negeri hanya bisa dinikmati oleh kalangan berduit atau dosen PNS/Kopertis. Tapi sekarang saya lihat peluang itu terbuka luas bagi siapa saja. Kuncinya ada pada dua faktor yang memang selalu jadi bagian hidup kita. Pertama adalah takdir (rizki), yang kedua adalah kesungguhan dan kegigihan kita mencari peluang itu.
Bagi yang berminat mengambil jalur formal, silahkan cari peluang beasiswa dan atau assistantship itu di jalur-jalur formal, seperti di kampus almamater masing-masing, atau melongok ke AMINEF yang tersohor dengan Fulbright-nya. Jangan takut dengan nama besar itu, karena seperti yang saya bilang, ada unsur rizki di situ, alias tidak selalu yang fully bright yang diterima, hehehe. Silahkan juga intip peluang di USAID. Jika ingin menjelajah negeri Kangguru, bisa melihat peluangnya di AusAID atau ADS. Bisa juga menjajaki kesempatan di Program Beasiswa Unggulan Depdiknas, atau di tempat yang hiruk pikuk dengan informasi beasiswa yang satu ini (beasiswa ptkpt), RumahBeasiswa, atau lihat peluang sambil baca-baca tips beasiswa di Pusat Info Beasiswa. Sekiranya masih sempat, silahkan juga ikuti perkembangan dan berbagi cerita dengan rekan-rekan di milis-milis beasiswa yang ada. Ini hanya contoh saja, karena masih banyak lembaga lain yang menyediakan beasiswa.
Saya sendiri memilih fokus di strategi gerilya. Saya cari peluang assistantship di perguruan tinggi Amerika, Inggris atau Australia dengan langsung menghubungi perguruan tinggi yang bersangkutan. Thank God sekarang sudah jaman Internet, hehehe. Seperti sudah jadi rahasia umum, jumlah mahasiswa asing turut menentukan peringkat suatu perguruan tinggi. Jadi, asumsinya, setiap perguruan tinggi akan berlomba-lomba menerima sebanyak mungkin mahasiwa asing. Tentu saja tidak asal terima, tetap ada seleksi alam, menilik kemampuan yang bisa kita sumbangkan buat mereka. Tapi beruntunglah kita yang hidup di Indonesia, warga negara Dunia Ketiga rupanya mendapat cukup prioritas juga dari sana, hehe.
Dalam strategi gerilya itu, saya meminta bantuan Mbah Google untuk menemukan perguruan tinggi mana saja yang menawarkan assistantship. Itu sub-jurus pertama. Sub-jurus kedua, saya mencari perguruan tinggi yang punya program studi atau kajian Asia Tenggara dan atau Indonesia. Syukur-syukur kalau ada yang menyelenggarakan Program Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing (BIPA). Setelah menemukan apa yang saya cari, saya kirim surat elektronik kepada setiap Advisor atau Ketua Program/Departemen di perguruan tinggi bersangkutan, menanyakan peluang saya bersekolah di tempatnya. Kalau memang ada peluang bersekolah di situ, saya lalu menanyakan masalah pembiayaan, apakah harus tunai atau bisa dicicil. Ceritanya mau bayar sendiri, padahal secara pragmatik itu adalah cara mengharapkan beasiswa, hehehe. Saya juga menceritakan apa saja kemampuan dan atau keterampilan yang saya miliki yang sekiranya bisa disumbangkan untuk kepentingan mereka. Mungkin membantu mengajar di S1, mengajar Bahasa Indonesia, atau membantu riset. Upah dari bantu-bantu itulah yang nantinya jadi penopang sekolah dan hidup saya di sana (kalau ke sana, hehe).
Untuk sementara, itulah jurus dan sub-jurus yang saya tahu dan lakukan. Semoga bermanfaat buat yang belum tahu cara cari peluang sekolah di luar negeri. Mungkin di antara rekan-rekan blogger ada yang mengetahui jurus lain? Silahkan berbagi di sini. Insya Allah akan bermanfaat buat saya pribadi dan orang lain yang membutuhkannya.
Oia, plis deh jangan dulu bertanya apakah saya sudah berhasil dengan jurus-jurus itu. Saya masih di sini kok. hehehe
No related posts.