H-1 menuju acara pembukaan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Biasanya, hari-hari jelang hajatan akbar sepakbola ini gaduh oleh obrolan seputar tim jagoan masing-masing, analisis dan prediksi ala warung kopi, taruhan, dan sebagainya. Tapi sekarang, gema Piala Dunia bisa jadi kalah kencang oleh pemberitaan seputar kisah tersebarnya video mirip Ariel-Luna Maya dan mirip Ariel-Cut Tari.
Apalagi ditambah isu bahwa total ada 23 artis wanita yang pernah bercinta dengan sang mirip Ariel dan semua videonya akan disebar di Internet. Salah satu artis yang namanya banyak digosipkan termasuk di antara yang 23 itu adalah Aura Kasih. Coba saja ketikkan nama Ariel dan Aura kasih di Google, niscaya kita temukan betapa video itu (jika benar adanya) termasuk yang paling dicari dan dinanti.
Apa boleh buat, gemerlap Piala Dunia kali ini memang kalah pamor oleh rasa penasaran masyarakat yang ingin melihat sosok bugil yang mirip artis pujaan publik.
Omong-omong soal Piala Dunia, saya tetap menjagokan Brasil, Spanyol dan Inggris. Brasil karena faktor tradisi (kelas), sedangkan Spanyol dan Inggris karena faktor momentum (performa). Bagaimana dengan Anda?
Yang saya tulis ini adalah pengalaman pribadi saya. Tidak ada maksud menjelek-jelekkan (karena semuanya jelek ketika memang jelek). Juga tidak bermaksud membagus-baguskan (karena semuanya bagus ketika memang bagus).
Empat bulan yang lalu, salah satu kantor tempat saya bekerja memberi fasilitas berupa satu perangkat Blackberry tipe Gemini. Atas saran teman merangkap bos, waktu itu saya memilih menggunakan layanan BIS dari Indosat. Selama ini saya punya dua kartu yang dua-duanya aktif, yaitu Telkomsel Halo dan Indosat IM3. Tapi khusus untuk layanan BIS, si bos menyarankan pakai Indosat saja, karena itu memang operator pelopor urusan Blackberry, sehingga diduga kuat punya fasilitas dan layanan BIS terbaik di negeri ini. Akhirnya saya pun coba pakai layanan BIS seperti yang direkomendasikan.
Tiga bulan pertama saya lalui dengan cukup memuaskan. Saya gunakan kata “cukup”, karena di satu sisi memang bagus, dalam arti tidak ada masalah besar, sedangkan di sisi lain sesekali ada hal yang terasa mengganggu, yaitu adanya delay.
Sinyal yang saya dapat setiap hari dan di setiap tempat memang selalu bagus, hampir selalu EDGE (di Gemini, EDGE adalah yang paling bagus). Anehnya, bahkan ketika simbol sinyal berstatus EDGE, delay itu selalu saja muncul, terutama pada malam hari. Paling terasa ketika BBM-an, YM-an, dan FB-an. Apalagi ketika saya berkunjung ke rumah calon istri yang lokasinya memang di pinggiran Bandung Timur, delay itu terkesan sebagai kewajiban, meskipun status sinyal selalu tetap EDGE. Aktivitas download aplikasi-aplikasi kecil pun sering terhambat. Dengan harga berlangganan bulanan 160 ribu, terus terang kondisi itu lama-lama membuat saya terpancing untuk mencoba layanan BIS dari operator lain.
Saya pun survey kecil-kecilan ke pengguna layanan BIS dari XL dan Telkomsel. Sengaja saya batasi penelusuran hanya di tiga operator besar itu saja, karena terus terang untuk yang lain saya sudah jelas-jelas tidak mau mempertimbangkannya pun (maaf ya kawan-kawan dari selain ketiga operator itu, saya tidak bermaksud merendahkan kalian kok). Ini diperkuat oleh hasil polling di forum terbesar di Indonesia, yang menempatkan ketiga operator itu di tiga peringkat teratas yang paling banyak digunakan oleh pengguna Blackberry. Seingat saya urutannya adalah (1) Indosat, (2) Telkomsel, (3) XL.
Karena saya sudah merasakan kinerja Indosat, maka alternatif terdekatnya adalah Telkomsel. XL sengaja saya abaikan dulu, karena berdasarkan pengalaman teman-teman pengguna BIS XL, ternyata masalah delay juga sesekali muncul. Hanya layanan BIS Telkomsel yang belum terdengar keluhannya. Yang ada malah kabar gembira lain, yaitu adanya penurunan tarif menjadi 120 ribu/bulan untuk bulan pertama, dan 150 ribu untuk bulan-bulan berikutnya. Lumayanlah beda 10 ribu dengan Indosat.
Karena tidak mau kecolongan, saya mencoba layanan BIS via Telkomsel Halo dengan menggunakan paket berlangganan mingguan. Pikir saya, kalau jelek toh gampang tinggal balik lagi ke Indosat.
Seminggu dua minggu saya coba, ternyata kinerjanya memuaskan. Kalau bicara sinyal memang selalu GPRS. Tidak peduli di rumah, di pusat kota, atau di pinggiran kota, selalu saja GPRS, yang notabene di bawah EDGE. Tapi yang membuat saya senang dan puas adalah: meski hanya GPRS, tapi tidak pernah ada delay! Padahal teman-teman yang menggunakan Onyx dipadu dengan layanan BIS dari operator lain sering mendapat sinyal EDGE dan 3G, tapi mereka sering mengeluh tentang delay.
Sekarang satu bulan sudah saya menggunakan layanan BIS dari Telkomsel Halo. Dan saya sangat berniat melanjutkannya. Karena saya merasa nyaman dengan kinerja sinyalnya yang lancar, dan saya puas dengan tidak adanya sedikitpun delay.
Dan hari ini, ketika saya menulis postingan ini, sinyal IM3 di rumah saya mendadak hilang seharian. Giliran saya ke luar rumah, ke daerah pusat kota atau ke tempat lain yang tidak terlalu jauh dari komplek rumah, sinyal IM3 sangat normal. Tapi saat saya pulang ke rumah, simbol sinyal di layar hape saya bergambar silang merah. Tidak ada sinyal sama sekali. Entah mau sampai kapan. Yang jelas, saya merasa semakin yakin bahwa peralihan saya dari BIS Indosat ke BIS Telkomsel terbukti benar.
Sekali lagi saya katakan, bahwa ini pengalaman pribadi saya. Bagi teman-teman lain, mungkin ada yang lebih nyaman dan puas dengan layanan BIS Indosat atau XL atau operator manapun, karena memang kondisi lokasi kita berbeda. Beda lokasi, beda sinyal terbaiknya, beda pula kepuasan dan pilihan kita sebagai konsumen.
Saya lahir dan besar di Bandung. Bahkan hingga sekarang tidak dan belum pernah bertempat tinggal selain di Bandung. Maka sangat wajar jika saya mengaku diri sebagai bobotoh Persib.
Sebagai seorang bobotoh, tentu saya sedih mendengar kabar klab lokal kesayangan saya itu kalah. Tapi yang membuat saya lebih sedih adalah komentar sebagian kalangan tentang kekalahan itu.
Saya akui bahwa peran penonton teramat besar dalam mempengaruhi kinerja para pemain di lapangan. Khususnya ketika bertindak sebagai tim tuan rumah. Tapi mari kita lihat persoalannya secara jujur dan jernih: ini adalah pertandingan sepakbola. Yang bertarung di lapangan adalah sebelas melawan sebelas. Jadi, menurut saya, pertandingan yang tanpa penonton (menurut kebijakan Polwiltabes Bandung, hingga radius 300 meter dari stadion harus steril bobotoh) adalah pertandingan yang jujur. Artinya, ketika Persib kalah dari Persiba tadi sore, itu bukan karena pertandingannya tidak disaksikan para bobotoh, tapi karena memang Persib tidak bisa mencetak lebih banyak gol dibanding lawannya.
Apakah kelesuan mencetak gol itu dipengaruhi oleh ketiadaan bobotoh di stadion? Sangat mungkin memang benar demikian adanya. Tapi terlalu cari-cari alasan jika kemudian hal itu dianggap sebagai faktor utama kekalahan Persib.
Persib adalah tim besar dengan sejarah yang kuat. Sedangkan kemenangan dan kekalahan adalah bagian dari permainan. Sebagai tim besar, Persib harus mengakui bahwa kekalahan adalah kekalahan, bahwa kekalahan adalah karena kurang baiknya permainan, juga bahwa di kesempatan lain Persib harus bermain lebih baik lagi. Minimal, lebih baik dan lebih banyak mencetak gol dibanding lawan. Karena itulah kunci kemenangan sebuah tim.
Yang penting, kalah atau menang, Persib tetap di hatiku
Recent Comments