a freelance journal

by a freelance educator, writer, translator, editor

Anda

without comments

Karya Irwan Mulyawan

Usai menunaikan shalat zhuhur, saya dan seorang teman duduk-duduk sambil berbincang-bincang di selasar Al-Furqan, simbol kereligiusan kampus Universitas Pendidikan Indonesia.  Seorang perempuan melintas di hadapan kami.  Teman saya menunjuk ke arah perempuan itu sambil berkata, “Saya seneng sama akhwat itu.  Dia ngomongnya sopan sekali.  Kalo ngomong sama saya dia selalu pake kata Anda.  Padahal sama orang lain mah gak pernah.“  Dengan nada mengejek saya bilang, “Jangan geer dulu.  Belum tentu dia bersikap sopan kamu.  Siapa tahu dia tidak suka sama kamu.“  Teman saya kaget dan matanya menagih penjelasan.  Dan inilah penjelasan saya.

Dalam ilmu bahasa dikenal istilah pronomina, yaitu kata (atau kata-kata) yang dipakai untuk mengacu kepada nomina lain.  Ada tiga macam pronomina dalam bahasa Indonesia, yaitu (1) pronomina persona, (2) pronomina penunjuk, dan (3) pronomina penanya.  Yang kita bicarakan sekarang adalah pronomina persona, yaitu pronomina yang dipakai untuk mengacu pada orang.  Contoh pronomina persona adalah saya, aku (pronomina persona pertama tunggal), kami, kita (pronomina persona pertama jamak), kamu, engkau (pronomina persona kedua tunggal), kalian (pronomina persona kedua jamak), dia/ia, beliau (pronomina persona ketiga tunggal), dan mereka (pronomina persona ketiga jamak).  Selain itu, ada juga istilah nomina penyapa yang dipakai sebagai penyapa untuk persona kedua dan nomina pengacu sebagai pengacu persona pertama dan ketiga.  Dalam hal ini yang lazim dipakai adalah istilah kekerabatan (kinship-terms), yaitu Bapak, Ibu, Saudara; nomina yang digunakan untuk mengacu kepada orang (yang) asing, seperti Tuan, Nyonya, Nona; nomina dasar khusus yang digunakan sebagai pronomina; dan gelar atau jabatan yang juga difungsikan sebagai pronomina.  Itu baru sebagian contoh pronomina dan nomina penyapa/pengacu dalam bahasa Indonesia.  Masih banyak contoh lain, terutama yang dipengaruhi bahasa daerah.

Kata Anda baru lahir tahun 1957.  Waktu itu Pak Sabirin, seorang perwira pertama Angkatan Udara RI, mengusulkan Anda melalui suratkabar Pedoman yang terbit di Jakarta karena terinspirasi oleh penggunaan you dalam bahasa Inggris.  Anda diharapkan dapat menjadi solusi atas kesulitan orang Indonesia dalam memilih nomina penyapa yang demikian banyak dan beraneka-ragam. Anda dianggap sebagai nomina penyapa yang egaliter.  Kata yang tak pandang bulu.  Siapapun orang yang hendak kita sapa, selama orang itu menurut kita layak dihormati, kita gunakan Anda.  Kalau dilekatkan ke Ayah, Ibu, Kakak, Adik, Anda menjadi Ayahanda, Ibunda, Kakanda, dan Adinda.  Kata-kata ini menunjukkan hormat dan mengandung nilai rasa akrab dan sayang antara penyapa dan tersapa.  Itu menurut Pak Sabirin.

Akan tetapi, Anda rupanya kurang laku di masyarakat.  Menurut Panuti Sudjiman dalam tulisannya Anda: The Egalitarian Second Person Singular Pronoun (Kaswanti Purwo, ed., 2000: 211-219), hal ini terjadi karena kultur Indonesia yang feodalistik.  Kefeodalan cenderung membatasi atau malah menghambat penggunaan Anda.  Orang segan menggunakan Anda untuk menyapa persona kedua, apalagi jika persona kedua itu lebih senior atau lebih tinggi statusnya.  Tapi kalau menurut saya sih, ini bukan masalah feodalistik melainkan masalah kesantunan yang sebenarnya khas masyarakat Indonesia.  Sayangnya, kesantunan ini dipandang oleh orang lain, yang nilai kesantunannya berbeda dengan masyarakat Indonesia, sebagai feodalistik.  Perkara yang dalam budaya kita dianggap bagian dari kesantunan dipandang sebagai kefeodalan menurut kacamata budaya lain.

Sejauh ini, ada dua ranah penggunaan AndaPertama, Anda dipakai dalam hubungan yang takpribadi.  Di sini Anda tidak diarahkan kepada satu orang khusus.  Ini sering kita lihat dalam periklanan, misalnya Pakailah sabun ini agar tubuh Anda bebas dari kuman.  Atau dalam karya tulis seperti buku atau artikel.  Kedua, Anda digunakan dalam hubungan bersemuka, tetapi pembicara tidak ingin bersikap terlalu formal atau terlalu akrab, seperti dalam  Anda sekarang tinggal di mana?

Jika ditinjau secara semantik, penggunaan Anda tak kalah menarik.  Dalam semantik dikenal istilah makna afektif (affective meaning).  Menurut Finegan et. al. (1992: 137), makna afektif menunjukkan perasaan, sikap, dan opini penutur perihal informasi tertentu atau konteks terjadinya pertuturan.  Misalnya kalimat, “Kamu memang cerdas.“  Kalimat tersebut mengandung setidaknya dua kemungkinan maksud: 1) penutur menganggap petutur cerdas, 2) penutur menganggap petutur bodoh.  Untuk mengetahui maksud mana yang dikehendaki penutur, tentu saja kita harus paham betul konteks atau seting pertuturan  ditambah nada dan intonasinya.

Kita lihat contoh lain.  Saat sedang asyik-asyiknya menonton acara televisi, seorang istri berkata kepada suaminya, “Firman Venayaksa, kok merokok terus sih?“  Coba Anda pikirkan barang sejenak.  Kenapa seorang istri harus menggunakan nama lengkap suami dalam situasi tutur yang begitu informal?  Dalam kondisi normal, sang istri tentunya akan menggunakan kata sapaan yang menunjukkan rasa sayang dan mesra, misalnya Kakak, Mas, Aa atau Akang.  Kalau sang istri seorang aktivis Islam, biasanya menggunakan Abi.  Dengan kata lain, ada sesuatu yang tidak normal dalam seting pertuturan itu.  Ketidaknormalan itu berupa ketidaksukaan atau bahkan kekesalan istri terhadap kebiasaan suami, merokok. Sang istri akhirnya menggunakan kata sapaan formal dengan nada dan intonasi yang agak tinggi untuk menunjukkan perasaannya yang sudah tidak tahan dengan kebiasaan suami.

Nah, dalam seting yang tepat, Anda menunjukkan makna afektif berupa rasa hormat dan respek penyapa terhadap tersapa.  Tapi jika digunakan dalam seting lain, Anda bisa memiliki makna afektif yang sama sekali berbeda: menunjukkan rasa tidak suka, atau rasa kesal, penutur terhadap petutur!  Pernah, sepasang kekasih bertengkar di telepon dan saling meng-Anda-kan satu sama lain.  Setahu saya, dalam kondisi normal mereka menggunakan panggilan khusus untuk pasangannya.  Oleh karena itu, Anda sebagai laki-laki jangan ge-er duluan kalau disapa dengan Anda oleh seorang perempuan yang sebenarnya sudah Anda kenal lama.

Written by adhi

May 6th, 2008 at 9:11 am

Posted in Linguistik

Leave a Reply