Selamat Untuk Pak Amin Sang Kepala Pusat Bahasa Kemendiknas RI

Jika merujuk pada berita tentang pelantikannya pada Jumat lalu, maka pekan ini adalah pekan pertama Prof. Dr. E. Aminudin Aziz, M.A. menjalani amanat sebagai Kepala Pusat Bahasa Kemendiknas RI. Suatu jabatan yang sangat patut diberikan kepada sosok kaya prestasi dan pengalaman seperti Pak Amin.

Saya ingat ketika masih berkuliah di S1. Sebelum mengenalnya, nama Bapak yang satu ini sudah cukup membuat gelisah. Para senior bercerita bahwa dia ini sosok dosen killer, sebutan yang biasanya disematkan kepada dosen yang galak, suka memberi tugas yang sulit, dan tidak kenal ampun. Maka ketika saya melihat namanya sebagai dosen di matakuliah Semantics yang saya kontrak, maka deretan kengerian pun membuat diri waspada. Materi perkuliahan yang rumit jadi lebih mudah dipahami dengan cara yang sederhana. Inilah noktah awal ketertarikan saya pada linguistik. Apalagi setelah itu, matakuliah Sociolinguistics juga diasuh olehnya. Dengannya, saya semakin memahami bahwa ilmu bahasa alias linguistik pun bisa sangat berguna bagi masyarakat.

Selain bertemu di ruang kelas, saya juga berinteraksi dengannya di UKM Sanggar Budidaya Linguistik, dalam kapasitas saya sebagai pengurus bersama Andika Dutha Bachari dan Mahmud Fasya, sedangkan beliau Pembina UKM tersebut. Puncaknya adalah ketika saya mengajukan proposal skripsi. Sengaja saya memilih topik pragmatik, karena saya memang ingin dibimbing langsung oleh dia. Dan benar saja, surat keputusan penunjukkan pembimbing pun menetapkan namanya sebagai Pembimbing I, bersama Ibu Rojab Siti Rodliyah sebagai Pemimbing II.

Dengan proses interaksi yang makin intens, sebutan killer seperti memberi makna baru. Bagi saya, dia bukan sosok killer dengan konotasi negatif, tapi dia lebih sebagai dosen ideal. Tanpa bermaksud mengecilkan peran dan arti dosen-dosen lain pada masa itu, saya merasa bahwa saya paling banyak belajar dari Pak Amin. Uniknya, pelajaran-pelajaran penting itu tidak melulu hadir di ruang kelas. Seringkali malah muncul dalam bentuk ledekan-ledekan khas beliau (Bapak satu ini tergolong sering melontarkan ledekan yang lumayan nyelekit, hehehe). Barangkali kebiasaan itu pula yang membuatnya ditakuti, disegani, bahkan cenderung dihindari sebagian (besar) mahasiswa. Tapi seperti umumnya banyak hal di dunia ini, kita selalu punya pilihan untuk memandang hal ihwal dari kacamata negatif atau positif. Saya lebih suka yang positif. Faktanya, dari lisan tajam yang dibarengi teladan perbuatannya itulah saya jadi benar-benar belajar arti disiplin, kerja keras, kerja cerdas, sikap mental sebagai pembelajar dan peneliti sepanjang hayat, termasuk pentingnya motivasi dan passion dalam menjalani apa yang sudah ditargetkan. Apalagi ketika itu saya sedang berada pada titik nadir dalam kehidupan akademik, karena kecewa melihat lingkungan yang seperti abai terhadap fenomena “tukang nyontek dan tukang nyalin bisa dapat nilai lebih baik dari narasumber”. Dia pula yang membuat saya berani nekad mendaftar kuliah S2 ke Program Studi Linguistik Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, padahal saat itu saya hanya punya biaya untuk SPP satu semester saja.

Hingga sekarang, meski saya sudah hampir tidak pernah berinteraksi dengannya lagi, khususnya secara langsung, banyak sekali bekal hidup darinya yang masih melekat dan menjadi bekal saya menikmati hidup dengan segala tantangannya.

Kini dia sudah menempati pos baru di Kemendiknas RI. Dari selentingan rumor, saya dengar dia bercita-cita membawa ilmu clinical linguistics (linguistik klinis) untuk bisa diterima di masyarakat Indonesia, khususnya di ranah hukum, sebagai alat analisis pembuktian dari aspek kebahasaan. Entah rumor itu benar atau tidak. Semoga saja itu menjadi nyata. Yang pasti, saya mendoakan semoga pengangkatan itu membawa berkah, kebaikan dan manfaat bagi dirinya, Kemendiknas, UPI, dan masyarakat umum secara luas.

Tidak ada manusia sempurna, dan saya pun tidak sedang menulis kesempurnaan siapapun. Saya hanya ingin mengucapkan:

Selamat bertugas, My Guru!

Catatan: Gambar didapat dari profil sang tokoh di laman Jurusan Bahasa Inggris Universitas Pendidikan Indonesia.

Comments

Silakan Komentarnya