a freelance journal

by a freelance educator, writer, translator, editor

Puasa Ramadhan Kali Ini Kita Berbarengan

without comments

Seperti kebanyakan orang pada umumnya, sebagian besar usia saya sejak lahir hingga sekarang lebih banyak mengikuti “mazhab” pemerintah dalam memulai dan mengakhiri Ramadhan. Sejak SMP saya memang mengenal istilah rukyat hilal dan hisab, tapi pada prakteknya saya dan keluarga selalu menanti pengumuman resmi pemerintah, barulah kami berpuasa. Saya kira kebanyakan orang juga begitu, kan? :grin:

Kebiasaan itu berubah pada tahun 2000. Seiring bertambahnya bacaan, (sedikit) meluasnya “pergaulan”, dan (sedikit) meningkatnya frekuensi diskusi dengan berbagai kalangan, pengetahuan dan pemahaman saya terhadap perkara awal-akhir Ramadhan mengalami (sedikit) pendalaman. Dan tahun 2000 itulah awal mula saya mengambil pendapat rukyat hilal dalam penentuan awal-akhir Ramadhan. Yang saya pilih adalah rukyat hilal global, bukan rukyat hilal nasional. Itu pilihan saya pribadi, karena keluarga saya tetap menganut paham menunggu pengumuman pemerintah. Sekiranya Anda ingin tahu mengenai masalah ini secara lebih mendalam, tulisan ini merupakan salah satu sumber yang paling komprehensif menjelaskannya.

Perbedaan itu tentunya membawa konsekuensi tersendiri. Hampir setiap tahun saya berbeda dengan keluarga (dan masyarakat Indonesia pada umumnya) dalam mengawali dan mengakhiri Ramadhan. Jika berbeda awal, mungkin tak terlalu gimanaaa gitu. Yang sangat terasa adalah jika berbeda akhir, karena artinya saya berlebaran lebih dulu dibanding anggota keluarga, juga kebanyakan orang Indonesia. Artinya saya tidak bisa makan ketupat lebaran. hehehe.

Konsekuensi lainnya adalah setiap akhir bulan Syaban, saya harus memastikan hape saya menyala, karena kabar mengenai terlihatnya hilal di suatu negeri terkadang datang melalui sms. Setelah punya sambungan Internet di rumah, setiap akhir Syaban saya pasti nongkrong online untuk melihat informasi hilal di belahan dunia manapun. Terkadang ada juga saat-saat ketika saya tidak sanggup begadang, lalu ketiduran, padahal sekitar pukul 02-03 dini hari ada sms mengabari terlihatnya hilal dan sudah masuk 1 Ramadhan. Kalau sudah begitu, tak ada pilihan selain berpuasa tanpa bersahur.

Ada juga momen ketika saya bersahur dengan selembar roti dan segelas kapucino saja. Itu terjadi dua tahun lalu. Sebetulnya itu bukan menu yang saya siapkan untuk sahur. Itu menu wajib ketika saya begadang menulis atau menerjemahkan. Waktu itu saya sedang mengerjakan pesanan artikel untuk sebuah majalah, ditemani kawan seperjuangan sejati: roti dan kopi. Tepat jelang subuh, ada tiga sms masuk mengabarkan terlihatnya hilal di beberapa negara Timur Tengah. Para pengirim sms menyebutkan sumber beritanya adalah Al Jazeera. Segera saja saya buka Internet dan memang betul ada kabar itu. Karena saya lupa bikin persiapan sahur, maka roti dan kopi itulah menu sahurku. Alhamdulillah, setidaknya masih sempet sahur. :grin:

Tadi malam saya juga nongkrongin Internet melihat-lihat kabar hilal, sambil menyiapkan menu sahur dadakan. Calon menu sahur itu akhirnya jadi menu sarapan, karena rupanya tidak ada satu kabarpun tentang terlihatnya hilal, artinya Ramadhan kali ini saya bareng-bareng mengawalinya. Entah nanti mengakhirinya. Andaipun ada perbedaan Idul Fitri, pastinya itu tidak akan jadi masalah. Sudah biasa.

Baiklah, Selamat Ramadhan 1429H. Semoga berkah dan ampunan Allah swt terlimpah pada kita semua. Semoga Ramadhan kali ini berhasil meningkatkan kualitas diri kita (setidaknya sedikit) lebih baik dibanding sebelumnya. Tak lupa dengan segala kerendahan hati saya ucapkan Mohon Maaf Lahir Batin.

Written by adhi

August 31st, 2008 at 8:47 am

Posted in Diari

Leave a Reply