Selama ini kita mengenal para pemain sepakbola profesional di klab-klab terkenal sebagai orang-orang yang cenderung mata duitan. Setiap kali teken kontrak baru, selalu menuntut peningkatan gaji. Tapi apa yang dilakukan oleh Oguchi Onyewu mungkin bisa membantu membukakan mata kita, bahwa masih ada pemain sepakbola profesional yang tahu diri.
[spoiler intro="Berita DetikCom Tentang Onyewu"]
Oguchi Onyewu melawan tren sepakbola modern. Bek AC Milan ini telah memutuskan untuk bermain tanpa dibayar alias gratis setelah setuju memperpanjang kontraknya di San Siro.
Bek internasional Amerika Serikat ini absen hampir sepanjang musim bagi Milan karena cedera serius pada lututnya. Namun Onyewu yang berakhir masa kontraknya 2012, telah membuat kesepakatan baru dengan AC Milan.
Pemain yang masuk dalam skuad bayangan AS di Piala Dunia 2010, telah memperpanjang kontrak selama satu tahun lagi di San Siro. Namun Onyewu telah sepakat tidak mendapatkan bayaran dalam kontraknya di musim 2012-2013.
“Onyewu minta, dan menerima, perpanjangan kontraknya selama satu tahun di Milan, dari 30 Juni 2012 sampai dengan 30 Juni 2013,” ungkap klub AC Milan dalam pernyataannya seperti dilansir Reuters.
“Selama setahun tambahan ini, Oguchi Onyewu, dengan pilihannya sangat dihargai oleh klub Rossoneri. Ia telah meminta tidak menerima apapun bayaran. Ia merupakan contoh sikap yang layak mendapat ucapan yang tulus.”
Bek berusia 28 tahun ini di musim pertamanya bersama Milan dibekap cedera tendon pada lututnya saat memperkuat timnas AS di kualifikasi Piala Dunia. Ia pun tidak pernah memperkuat Milan di pertandingan Seri A selama musim 2009-2010 ini.
[/spoiler]
Langkah itu diambil Onyewu mungkin atas dasar kesadaran pribadi, bahwa selama dikontrak oleh Milan, dia selalu cedera dan selama masa cedera itu selalu dalam proses penyembuhan berbiaya tinggi yang ditanggung oleh klab. Di sinilah saya menyanjung tinggi tingkat kesadarannya itu.
Ini juga memberi inspirasi bagai saya dan teman-teman yang punya usaha jasa penulisan, terjemahan dan penulisan konten. Sebagai penyedia jasa, prioritas kita adalah mempraktekkan prinsip service excellence, yang tujuan akhirnya memuaskan pelanggan dalam rangka mencapai keseimbangan win-win solution dengan pelanggan. Tidak ada priviledge antara pelanggan lama dan baru. Setiap pelanggan adalah pelanggan, dan di situlah konsep service excellence dijalankan.
Dalam proses pengerjaan orderan, terkadang ada sesuatu dan lain hal yang membuat kita sebagai penyedia jasa tidak bisa memenuhi permintaan pelanggan, atau tidak bisa menunaikan komitmen kita sendiri, misalnya terlambat dari deadline. Kalau sudah begini, sebaiknya kita meniru Onyewu: menggratiskan nilai jasa kita, atau minimal mengurangi upah atas jasa.
Related posts: