Salah satu seni kehidupan yang khas bagi seorang pekerja lepas atau freelance adalah pasang surut orderan.
Di satu waktu, orderan terasa sepi bagai suasana di kuburan. Di waktu lain, orderan begitu membanjir ibarat tsunami. Saya yakin, setiap orang yang bekerja secara freelance pasti pernah dan selalu mengalaminya kan.
Saya menyebutnya seni kehidupan, untuk memberi makna estetika terhadap fenomena semacam itu. Bagi saya, kejadian seperti itu memang mengandung keindahan pengaturan rizki oleh Sang Maha Pemberi Rizki.
Begitulah yang kini saya lagi-lagi alami. Sampai akhir bulan kemarin, semua orderan seperti malu-malu menghampiri. Sepi.
Menjelang pergantian bulan, berdatanganlah sms, email, telepon, yang semuanya menanyakan peluang kerjasama suatu pekerjaan secara freelance. Ada yang menawarkan terjemahan, ada yang meminta bantuan pengerjaan skripsi dan tesis, ada orderan penulisan artikel konten, dan lain-lain. Bisa dipastikan bulan baru dihiasi dengan daftar to-do-list yang panjang di depan komputer.
Kalau melihat potensi total nominal, ingin rasanya menerima dan mengerjakan semua orderan itu. Uang yang didapat mungkin cukup untuk membeli mobil. Hehehehe…
Tapi saya kembali ingat pesan Bang Cosa: jangan rakus. Jangan menerima pekerjaan yang di luar batas kemampuan. Setiap orderan ada deadline-nya. Kalau semuanya diterima, tentu ada banyak deadline berbenturan. Risikonya, kualitas pekerjaan turun drastis. Sebagai pekerja jasa, kualitas terbaik dalam hal pelayanan dan pengerjaan tentu menjadi perkara utama. Risiko yang lebih gawat lagi: kondisi kesehatan jadi terganggu karena kurang istirahat hanya karena terlalu bernafsu menerima dan mengerjakan semua pesanan. Kalau sudah sakit, akan muncul akibat terburuk : semua orderan jadi terbengkalai. Alih-alih dapat duit banyak, pastinya malah cacian dari klien yang didapat!
Karena itulah, dengan segala kerendahan hati, tanpa bermaksud menolak rejeki, saya harus secara sadar diri memilih dan memilah mana orderan yang saya ambil dan mana yang terpaksa saya tolak atau alihkan ke rekanan.
Syukur-syukur kalau para klien setia itu bersedia antri menunggu giliran
Bagaimana dengan Anda, kawan-kawan? Pernah mengalami kejadian seperti ini juga gak?
M. Ramdhan Adhi
Menikmati hidup sebagai penerjemah profesional dalam pasangan bahasa Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Anggota Penuh di Himpunan Penerjemah Indonesia dan Sekretaris di HPI Komda Jabar. Dosen luar biasa untuk mata kuliah English for Business di Program Studi Akuntansi, Universitas Pendidikan Indonesia. Memiliki hasrat terbesar dalam bidang linguistik, penerjemahan, Internet, blogging, riset dan penulisan.
Related posts:








Pingback: Tweets that mention Pasang Surut Orderan | Diari | a freelance journal -- Topsy.com