Mengenalkan Internet kepada Mahasiswa
Mumpung sekarang Internet sudah ada di mana-mana (mungkin), maka tak ada salahnya jika proses pembelajaran pun memanfaatkan Internet. Saya ingat suatu masa ketika dalam matakuliah Writing, tapi saya lupa Writing berapa, hehehe, sang dosen, yaitu Pak Pupung Purnawarman, memanfaatkan media mailing list sebagai media pembelajarannya. Kami, para mahasiswanya, diminta untuk membuat akun email, lalu bergabung dengan grup yang telah beliau buat. Di grup itu beliau memberikan materi-materi perkuliahan. Tugas-tugas juga disampaikan dan diserahkan melalui milis itu. Saat itu Internet belum populer seperti sekarang. Seingat saya, di dekat kampus waktu itu hanya ada satu warnet. Namanya MidPoint. Maka pernah terjadi saya berada di warnet yang sama dengan sang dosen, hanya beda nomor kubik tapi berhadapan. Tentu saja agenda kami berbeda: beliau mengirim instruksi tugas, saya membuka instruksi tugas itu. ![]()
Keawaman tidak menghalangi kami para mahasiswa untuk mengikuti pola perkuliahan seperti itu. Apalagi sang dosen berhasil menanamkan motivasi bahwa penggunaan teknologi itu bukan untuk menyiasati kemalasan dosen datang ke kelas, tapi justru untuk membelajarkan mahasiswa bahwa di dunia ini ada yang namanya Internet! Juga bahwa kita, sebagai insan akademis-ilmiah, sudah seharusnya bisa memanfaatkan Internet. Untungnya saat itu saya tidak terlalu awam dengan Internet, karena sudah terbiasa mampir ke WasantaraNet milik PT Pos Indonesia untuk melakukan sedikit kenakalan remaja (eh eh, sekarang masih ada gak yah itu wasantara?).
Pengalaman itu kemudian berlanjut ketika beberapa dosen lain juga menggunakan Internet untuk matakuliah lain. Tapi sebagian besar sih hanya menyuruh memanfaatkan mesin pencari. Tidak semuanya menggunakan milis, mungkin karena memang tidak semua dosen saat itu tahu cara menggunakan milis. hehehe
Yang saya rasakan: rangkaian pengalaman itu akhirnya membuat saya menjadi pencandu Internet! Maka terima kasih tak terhingga saya sampaikan kepada Pak Pupung Purnawarman.
Maka metode itu juga saya praktekkan di kampus tempat saya mengajar. Kepada mahasiswa yang aslinya cupu-cupu itu, hehehe, saya ceritakan betapa saya juga tadinya tidak tahu apa-apa soal Internet. Boro-boro bikin email, buka peramban saja tidak tahu caranya! Tapi ketidaktahuan itulah yang justru jadi pendorong untuk belajar. Untuk menjadi tahu. Kepada mahasiswa, saya juga menceritakan apa saja yang bisa kita lakukan dengan Internet. Mulai dari mencari sumber-sumber lain untuk tugas-tugas, skripsi, sampai akhirnya menjadikan Internet sebagai substitusi buku. Saya ingat salah seorang cerita mantan Rektor UPI, Pak Ahmad Sanusi. Dalam suatu obrolan santai di rumahnya, beliau bercerita sudah tidak pernah lagi beli buku. Semua informasi dan pengetahuan baru beliau peroleh dari Internet. Tak lupa tentu saja saya juga menceritakan bagaimana Internet bisa menjadi sarana gaul, dengan adanya situs-situs jejaring sosial atau adanya YM. Kalau sudah begitu, biasanya mahasiswa lebih bersemangat lagi berinternet. hehehe
Yang repot adalah ketika mengajar di kampus yang terkategori daerah bukan kota besar. Di daerah seperti itu, biasanya warnet masih jarang, biayanya juga lumayan mahal. Tapi karena saya sudah berikrar untuk memperkenalkan Internet dan manfaat-manfaatnya kepada mahasiswa, maka dengan amat sangat tega saya tetap mengajak mereka untuk berinternet. Di kelas, saya hanya membahas materi yang sifatnya pengantar. Sisanya, mahasiswa diminta mengerjakan tugas yang menuntut mereka membaca buku sesuai silabus, sambil mengandalkan mesin pencari untuk mencari sumber-sumber lain. Tugas itu diserahkan ke saya via email. Lalu saya memberi tugas susulan untuk pertemuan selanjutnya. Begitu seterusnya. Kenapa tidak bikin milis saja? Fakta: di daerah, membuat email saja sudah suatu prestasi. Beberapa mahasiswa pernah mengirim sms begini: “Pak, maaf, email bapak salah. Jadi tugas saya belum terkirim.” Saya kan bingung, kok ada istilah email saya salah. Setelah saya cek ke orangnya, baru deh ketahuan bahwa mereka yang salah menuliskan alamat email saya, yaitu mereka tidak menuliskan “.com” pada kolom tujuan. Jadi kebayang kan betapa milis itu nanti saja pada tahap selanjutnya. hehehe
Sekarang ketika era blog sudah mewabah, sebetulnya saya ingin sekali menggunakan blog sebagai media pembelajaran. Karena saya melihat blog punya fasilitas yang bisa menjadikannya media pembelajaran. Tinggal pinter-pinternya si dosen saja untuk mengaturnya. Malah saya bercita-cita supaya setiap mahasiswa punya blog. Lalu dosennya juga punya blog. Saya lihat dan dengar beberapa dosen sudah ada yang memanfaatkan blog sebagai media pembelajaran. Tapi ya itu tadi, perlu proses untuk mengenalkan hal-hal itu ke mahasiswa saya sekarang. Untuk sekarang, saya cukup puas melihat mahasiswa saya akhirnya bisa memanfaatkan mesin pencari, lalu terbiasa menggunakan email. Untuk saat ini, itu saya rasa cukup. Nanti, baru berlanjut ke milis, lalu blog.






Tentu saja agenda kami berbeda: beliau mengirim instruksi tugas, saya membuka instruksi tugas itu.
Hehehe…. dulu pas awal2 belajar internet, ke warnet bareng temen2, chating (MIRC) dan ngobrol di chatingan, padahal biliknya sebelahan.
ekkei´s last blog post..Download Internet Business PLR Articles
ekkei
28 Oct 08 at 10:40 am
internet sumber dari informasi, semuanya ada di internet, tergantung dari penggunanya mau dibawa kemana dunianya
sanyo´s last blog post..Cara menarik uang dari paypal
sanyo
9 Nov 08 at 12:00 am