Liga Champions tahun ini menghadirkan kisah heroik yang klasik: keberhasilan dua orang buangan Santiago Bernabeu untuk tampil di final yang diselenggarakan di stadion milik klab yang membuang mereka.
Menjelang bergulirnya awal musim tahun lalu, Wesley Sneijder dan Arjen Robben mendadak jadi pesakitan yang harus terbuang dari Real Madrid seiring kedatangan pasukan megabintang yang memakan megabiaya: Ronaldo, Kaka, Benzema, Alonso, Albiol. Sneijder dan Robben dijual dengan alasan yang selalu masih bisa diperdebatkan: tidak akan terpakai di tim yang di dalamnya sudah ada Kaka dan Ronaldo.
Realita berbicara bahwa Madrid gagal ke final Liga Champions sedangkan klab yang diperkuat Robben dan Sneijder justru akan saling berhadapan. Tragisnya, mereka akan unjuk kebolehan tepat di stadion kebanggaan klab yang membuang mereka.
Mungkin manajemen Madrid memang punya kalkulasi dan analisis jauh ke depan, yang mengindikasikan bahwa kejayaan mereka baru akan terlihat di masa depan. Entah itu tahun depan, atau tahun-tahun ke depan.
Tapi yang jelas, kedua pemain Belanda itu sudah membuktikan bahwa mereka masih bertaji dan bisa memberikan konstribusi.
Dari sini kita agaknya perlu untuk mengambil pelajaran berharga. Seperti kata ungkapan lama, sesuatu itu baru terasa berharga ketika kita sudah kehilangannya. Saat ada, terkesan tidak bernilai atau tidak bermanfaat. Ketika sudah dibuang, barulah disadari belakangan bahwa kita baru saja membuang harta yang teramat berharga.
Mungkin memang semua ini hanya kebetulan belaka. Mungkin memang Sneijder dan Robben akan mengalami penurunan kinerja. Tapi sebelum itu kita tahu mereka akan berhadapan di final. Sesuatu yang sudah lama tidak bisa Madrid lakukan. Meski di sana sudah berkumpul para bintang.
:rate
Related posts: