Sejenak ingin beromantisme historis. Saya termasuk mahasiswa yang khatam kuliah dalam waktu 14 semester. Ditambah 1 tahun penuh cuti kuliah, maka usia S1 saya genap 8 tahun. Bukan karena saya bermalas-malasan, tapi lebih karena saya ingin segala urusan berjalan lancar semuanya, dengan risiko lulus paling belakangan. Selama menjalani kuliah, saya juga bekerja sana-sini demi segepok tanah dan sekarung berlian. hehehe…
Salah satu pekerjaan yang saya jalani adalah menerjemahkan teks. Dari hasil pergumulan dengan buku dan jenis bacaan lainnya, termasuk teks-teks terjemahan dari para klien, akhirnya timbul keinginan untuk menulis buku sendiri, yang kelak terbit dengan nama saya tercantum di sampul buku. Oh indahnya. Itu yang saya bayangkan dulu. Apalagi menurut para senior, di jurusan saya belum ada mahasiswa yang menulis dan menerbitkan buku semasa kuliah. Yang sudah ada berstatus editor, yaitu mengumpulkan beragam tulisan dari berbagai kalangan, lalu menghimpunnya dalam sebuah buku. Makanya saya begitu bersemangat untuk menulis buku. Saya targetkan buku itu harus terbit sebelum saya lulus. Di satu sisi demi kepuasan dan kebanggaan. Di sisi lain, kalau ada yang mengkritik isinya, saya bisa dengan mudah berkelit, “Ya harap maklum, saya kan masih mahasiswa, masih perlu banyak belajar.” ![]()
Pada tahun 2005 akhirnya terbitlah buku itu. Buku yang saya tulis sendiri. Benar-benar sendiri. Bukan terjemahan. Bukan terbit atas nama orang lain. Kalau sekarang saya memuat ulang di blog ini tentang buku itu, bukan karena saya ingin membanggakan kejayaan masa silam. Tapi lebih karena saya ingin memotivasi diri sendiri untuk kembali menghasilkan karya serupa, kalau bisa sih yang lebih baik.
Jujur saja, ketika buku itu akhirnya terbit, rasanya seperti pasangan suami-istri yang mencapai orgasme. Setelah buku itu terbit, saya lebih banyak sibuk dengan urusan terjemahan, buku ajar, dan tulisan-tulisan pesanan orang lain, yang jika dimuat atau terbitpun menggunakan nama si pemesan.
Selalu ada hasrat untuk menulis dan menerbitkan buku. Tapi selalu juga terbentur oleh perkara-perkara pragmatis.
Maka izinkan saya untuk sekedar mendorong diri sendiri dengan memuat tulisan resensi seseorang ihwal buku saya. Semoga saya menjadi lebih terpacu lagi untuk melahirkan buku-buku berikutnya. Aamiin.
***
Fakta dan Data Kerusakan Globalisasi
Judul : Globalisasi Skenario Mutakhir Kapitalisme
Penulis : M. Ramdhan Adi
Penerbit : AL-Azhar Press Bogor.
Cetakan : Pertama, September 2005
Halaman : 127 Halaman
GLOBALISASI telah menjadi wacana dunia. Ribuan karya tulis telah dikeluarkan untuk berbicara mengenai ide yang lahir dari pemikiran ideologi kapitalisme ini, baik itu artikel, makalah, dan buku.
Buku ini sangat unik dan ideologis. Unik karena hadir di tengah polarisasi antara pro dan yang kontra. Ideologis sebab dikupas dari sudut pandang Islam. Pada kesimpulannya nanti, penulis buku ini mengambil posisi antiglobalisasi.
Globalisasi adalah sebuah pemikiran ideologi kapitalisme yang komprehensif dan meliputi segenap aspek kehidupan, kendatipun yang menonjol adalah aspek ekonomi. Globalisasi merupakan serangan total peradaban kapitalis yang melanda seluruh pelosok dunia –termasuk dunia Islam– dan merupakan serangan yang sangat ganas dan mematikan dengan senjata modal (capital) –yang memang sangat vital bagi roda kehidupan– untuk melumpuhkan seluruh bangsa di dunia, termasuk kaum Muslimin.
Kata “globalisasi” diambil dari kata “global”, yang maknanya ialah universal. Jadi globalisasi maksudnya adalah universalisasi ideologi kapitalisme, atau menjadikan kapitalisme sebagai satu-satunya ideologi dan peradaban dunia. Monopoli kata “universal”, sesungguhnya adalah suatu keangkuhan dan kesombongan, serta merupakan hinaan terhadap ideologi lain yang bersifat universal. Hal ini mencerminkan sikap tidak mau menerima eksistensi ideologi lain. Sikap ini sama halnya dengan monopoli kata “demokrasi” hanya untuk kapitalisme. Padahal demokrasi secara bersamaan dianut pula oleh ideologi atau filsafat non-kapitalisme.
Globalisasi adalah suatu ungkapan yang berarti penyatuan (integrasi) dan penundukan perekonomian lokal ke dalam perekonomian dunia, dengan cara memaksakan penerapan format ekonomi swasta ke dalam struktur perekonomian dunia, serta menjadikan ekspor setiap negara ditujukan untuk pasar dunia, selain untuk pasar regional.
Semua ini mengharuskan penghapusan seluruh batasan dan hambatan terhadap arus modal, barang dan jasa. Jadi pasar dan perekonomian dunia itu tentu bukanlah perekonomian yang tertutup atau terproteksi, melainkan perekonomian terbuka, atau apa yang disebut dengan pasar yang terbuka terhadap segala kekuatan ekonomi.
Istilah globalisasi pertama kali dikemukakan oleh majalah terbitan Amerika, Criminal Politics Magazine, pada rubrik Globalology, edisi November 1992. Di sana dimuat sebuah artikel bertajuk, The Carrol Quigley-Clinton Connection (Hubungan Presiden Clinton dengan Profesor Carrol Quigley). Profesor Quigley adalah dosen Clinton semasa kuliah di Georgetown University, yang mengasuh beberapa mata kuliah mengenai ekonomi-strategis di salah satu program pascasarjana. Tulisan tersebut memaparkan bagaimana Profesor Quigley memberi izin kepada Clinton untuk “mengintip” kebijakan-kebijakan yang sifatnya rahasia, dan memintanya untuk ikut mempelajari dan mempersiapkan kajian-kajian yang akan menguntungkan pemerintah Amerika.
Selama hampir dua puluh tahun, konsep ini dikaji Clinton hingga akhirnya berhasil menelorkan ide-ide ekonomi yang berkaitan dengan tata dunia baru (new world order). Sejak awal, dia telah meletakkan asas-asas kajian dan penelitiannya. Hal ini dibuktikan dengan pernyataannya, “Tidaklah mudah menciptakan tata aturan dunia yang didasarkan pada dominasi perekonomian internasional sebagai satu kesatuan. Oleh karena itu, bank-bank sentral di berbagai negara harus dimanfaatkan sesuai dengan perjanjian-perjanjian rahasia yang ditetapkan dalam berbagai pertemuan, perundingan dan konferensi.”
Ide-ide tersebut terkristalkan dengan sempurna dan mulai muncul ke permukaan pada awal dasawarsa 90-an. Ide-ide tersebut semakin matang dengan runtuhnya Uni Soviet, berakhirnya masa komunisme, dan keluarnya sosialisme dari medan internasional. Ini mengharuskan adanya introduksi dan perencanaan strategi ekonomi dalam skala luas untuk melemahkan dan kemudian menghancurkan sisa-sisa sosialisme secara total, untuk kemudian digantikan dengan persepsi-persepsi kapitalis, termasuk ide globalisasi, ekonomi pasar, dan perdagangan bebas, sebagai ide-ide yang diklaim paling aktual dan paling relevan dengan abad-21.
Semua ini membutuhkan perwujudan ide globalisasi dan perekrutan tokoh-tokohnya. Maka, muncullah istilah globalisasi, dan Clinton-lah yang menjadi perintisnya mengingat istilah ini muncul berbarengan dengan awal masa pemerintahannya.
Banyak ahli ekonomi –termasuk di Barat sendiri– telah memahami bahaya globalisasi atas dunia dan telah menyimpulkan satu hal yang mereka sepakati, yaitu penerapan globalisasi akan semakin memperlebar jurang pemisah antara yang miskin dengan yang kaya. Abid al-Jabiri –seorang ahli ekonomi Maroko– pada salah satu konferensi tentang globalisasi menyatakan bahwa globalisasi mempunyai tiga segi negatif. Pertama, semakin lebarnya kesenjangan antara orang kaya dengan orang miskin secara berlebihan, sehingga kehidupan modern di setiap negeri akan diwarnai dengan dikotomi miskin-kaya dan ketidaksolidan dalam bidang ekonomi, sosial dan budaya.
Kedua, Semakin lebarnya jurang pemisah antara anak-anak orang kaya dengan anak-anak orang miskin, yang akan melahirkan generasi yang terbelah menjadi dua golongan dengan dunianya sendiri-sendiri. Ketiga, merintangi dan melenyapkan kreativitas manusia dalam kegiatan perdagangan dan usaha, serta mengokohkan prinsip menghalalkan segala cara (Machiavelis). (Yusuf, anggota Koalisi Tolak Globalisasi, dimuat di Pikiran Rakyat 27 April 2006)***
10 Comments on “Mengenang Buku Globalisasi”
You can track this conversation through its atom feed.
ooh.. aya nya buku yang di covernya ditulis M. ramdhan adi? haha asa baru tau… weleh” ui ketinggalan berita…
kirain teh nama itu cuma ada di majalah Trubus… hehhe
Posted on February 17, 2009 at 10:55 am.
misi om numpang lewat…
thank’s y infonya
Posted on February 18, 2009 at 6:05 pm.
waa…infonya lengkap nih, jadi kyk maen ke toko buku
Posted on February 20, 2009 at 3:46 pm.
tulisanya lumayan berat bagi saya. eniwei thanks atas gambaran sekilas ini mas/om/aa’
Posted on February 23, 2009 at 7:57 am.
Wah lumayan.Sip infonya
Posted on February 24, 2009 at 9:30 pm.
thanks for sharing.
Posted on March 10, 2009 at 11:38 am.
Klo menurut q globalisasi seharusnya semakin mensejahterakan manusia dimuka bumi dan menmpatkan mereka setara dan sejajar
Posted on March 18, 2009 at 11:40 pm.
halo pak bos, salam kenal dan thanks untuk infonya
Posted on March 30, 2009 at 12:08 am.
sip dah..akan saia ingat.
Posted on June 9, 2009 at 8:21 pm.
Posted on July 15, 2009 at 10:12 am.