Novel bergenre petualangan ini menghadirkan nuansa berbeda dari kebanyakan novel pada umumnya. Jika selama ini kita lebih banyak disuguhi novel-novel dengan kehidupan romantika berselingan komedi, yang sebetulnya lebih cocok disebut opera sabun, maka novel ini dengan tegas mengangkat tema petualangan yang sarat ilmu pengetahuan.
Tokoh utama novel ini bernama Esa, seorang pengajar di perguruan tinggi terkemuka di Bandung (UPI, Universitas Pendidikan Indonesia) yang harus berpacu dengan waktu untuk memecahkan teka-teki pembunuhan sahabat karibnya (Heri). Dengan bantuan Nisa, Esa akhirnya paham bahwa kematian sahabatnya merupakan satu dari sekian banyak konspirasi kaum Yahudi.
Esa dihadapkan pada situasi pelik. Bersama Nisa, dia berusaha melepaskan diri dari jeratan kawanan Knights Of Zion. Semakin dibiarkan, akan semakin banyak orang tak berdosa yang menjadi korban. Mereka pun bertualang mencari petunjuk untuk menguak tabir misteri di balik kematian Heri. Sampai pada akhirnya Esa dan Nisa dipertemukan dengan Indra, tersangka pembunuhan Heri yang sebenarnya adalah saksi sekaligus pemegang kunci misteri pembunuhan Heri.
Di situlah petualangan dimulai. Trio sekawan tersebut berjalan menyeberang benua demi mengungkap rahasia yang terpetakan dengan jelas pada segitiga emas penyebab kematian Heri. Dengan bantuan seorang pembelot Knights of Zion, mereka akhirnya berhasil menguak tabir rahasia yang menyelubungi segitiga emas tersebut dan kaitannya dengan manuskrip kuno milik Indra.
Pada akhirnya Indra, Nisa, dan Esa harus menyelesaikan petualangan mereka sementara maut siap menerjang dari berbagai penjuru. Lalu mampukah Esa, Nisa, dan Indra menghadapi semua itu?
Sengaja saya mengulas novel tadi sedikit saja, sekadar ingin menggelitik Anda untuk segera menikmati novel berjudul “Rahasia Kaum Falasha” ini. Novel ini berhasil ditulis apik oleh Mahardika Zifana, otak di balik setiap kata serta goresan fakta yang terurai di dalamnya.
Mahardika menggambarkan tokoh utama dan tokoh pendukungnya dengan luwes berkarakter. Sebagai penulis, dia juga pintar menyelaraskan dialog antarkarakter sehingga pembaca mampu memahami seting, alur cerita, juga simbol yang dicitrakan di dalamnya. Tak ketinggalan pula fakta yang disuguhkan di dalam novel ini membuka cakrawala berpikir pembaca untuk lebih kritis dan sedikit berkelana di belantara yang oleh kebanyakan orang dianggap utopis.
Kentara sekali Mahardika sangat mengedepankan fakta sejarah, sehingga novel ini terkesan seperti buku nonfiksi yang dibuat untuk mengemukakan pandangan pribadi. Pun pada beberapa bagian ada scene yang terkesan “maksa” dan sangat sulit untuk dibayangkan, terlebih tidak ada visualisasi yang menunjang.
Meski demikian, secara keseluruhan novel ini sangat layak untuk dibaca. Butir-butir pengetahuan yang ada di dalamnya tentu saja akan menghadirkan pengalaman baru bagi Anda para penikmat karya sastra. Jadi, saya ucapkan saja: selamat menikmati.
Penulis: Mutiara Intan Permata
Related posts: